Dear Mama
Assalamu’alaikum,
Ma, hari ini aku ingin peluk mama, aku ingin menangis bersama mama, bukan karena aku sedih ma, bukan tapi karena aku bahagia, hari ini guruku mengumumkan juara umum di kelas, mama tau ga ternyata Hany juara satu.
Aku ingin cium mama, aku hadiahkan juara kelas ini untuk mama
Mama kapan pulang Hany kangen mama, apa mama ga kangen lagi ma Hany. Bukankah mama selalu bilang kalo mama kangen ma Hany tapi kenapa ma, kenapa mama ga pengen peluk Hany? Hany ga butuh apa2 dari mama, Hany cuma pengen pelukan mama, ciuman mama
.
Nah khan Hany sedih , mama juga khan, kenapa mama biarin kita sedih , mama cepet pulang yach Hany kangeeeeeen banget ama mama, Hany tunggu mama di rumah.
Mama , bunda ata baik yach, Hany juga sayang bunda.
Wassalamu’alaikum
Anak mama
Hany
Aku melipat surat Hany dengan pilu, tetesan air mata tak mampu lagi ku bendung, anak sahabatku itu baru berusia 8 tahun ia baru saja menginjak kelas 3 SD, sudah banyak hal yang ia tau tentang hidup tapi sampai sekarang aku masih membohonginya, tentang mamanya yaitu sahabatku, sahabat karibku yang meninggalkanya di rumahku 5 tahun yang lalu.
Aku mengambil kertas di meja kerjaku menyiapkan sebuah kebohongan lagi untuk Hany entahlah itu untuk ke berapa kali, setiap ada kejadian baru di manapun Hany selalu menulis surat untuk mamanya, dan aku lah yang bertugas menyampaikanya. Dan seperti biasa aku membacanya di kantor , dengan air mata dengan rasa bersalah, dengan penyesalan, Hany yang lucu, Hany yang mewarnai hari-hariku, Hany yang selalu bercerita banyak hal padaku dia bukan anak ku , bukan darah dagingku, yang sewaktu-waktu bisa di ambil mamanya seperti yang di ucapkan di suratnya dulu, dan aku harus menyiapkan segalanya untuk melepasnya, meski tak rela tapi apa yang bisa ku perbuat.
Aku terkesiap, iya tiba-tiba aku tersadar bahwa aku tidak punya hak apa-apa atas Hany, jika kelak Aya datang dan berniat mengambil belahan jiwaku itu apa yang bisa ku lakukan? Jika aku berkata jangan mungkin tetangga-tetangga ku yang cukup mengerti aku akan mebelaku, tapi pengadilan, jika Aya membawanya ke pengadilan apa yang akan aku lakukan “Astaqfirullah” aku beristiqfar memohon Allah menjauhkanku dari prasangka buruk dan apapun yang meresahkan hatiku, aku yakin Allah telah menyiapkan yang terbaik untuk ku Hany dan Aya.
***
“Husni aku titip anak ku, aku pasti pulang untuk menjemputnya, tapi aku tidak bisa memastikan kapan, aku akan mencari kerja makanya aku tak bisa membawanya maafkan aku Husni”
Pesan singkat itu serasa menimbunku, aku serasa di jatuhi beban berat yang tak pernah ku pikul aku tak bisa membawanya namun aku harus menerimanya , aku seperti tak bisa bernafas, bagaimana mungkin aku harus mengurus anak sahabatku itu tiba-tiba, jika sebelumnya aku menampung mereka di rumah kontrakan itu untuk sementara, kini aku harus mengurus putrinya sendiri, tanpa Aya sahabatku, mamanya Hany, “ Ya Rabb’ apa yang harus hamba lakukan”
“Assalamu’alaikum” ucapan salam yang ku dengar parau itu membuyarkan konsentrasiku ketika aku berniat mengkhatamkan Juz 14 malam ini, tapi masih kurang dua a’in lagi aku terpaksa mengakhirinya , setelah mencium Mushafku dengan khidmat aku menanggalkan mukenaku tanpa ku rapikan “wa’alaikumsalam” langkahku setengah tergesa menghampiri pintu rumahku, ketika ku buka dengan pelan aku di kagetkan oleh sosok yang sangat ku kenal , dengan wajah pucat , ia menggendong seorang gadis kecil, dan mencangklong tas besar di punggungnya “astaqfirullah aya,” ujarku hampir tak terdengar, kulihat wajah aya makin mendung ada air mata yang hampir tumpah di sana namun berusaha ia bendung, aku segera menyuruhnya masuk mengajaknya keruang tengah , menyiapkan bantal untuk putrinya yang juga terlihat lelah, rambutnya awut-awutan terlihat begitu menyedihkan bagiku. Meski guratan kelelahan juga terlihat padanya tapi gadis sekecil itu masih tanpa beban.
“ada apa Aya” ujarku setelah mereka bersih dan terlihat lebih segar “aku akan di madu oleh suamiku” ujarnya pelan, “astaqfirullah” ku peluk aya, kurasakan kesedihan wanita yang hendak di madu itu, Fatimah putri Rosul saja menyatakan sakit ketika hendak di madu, apalagi wanita di hadapanku ini , “suamiku , tak perduli dengan keberatan yang ku ajukan,padahal pernikahan kami baru berusia 4 tahun, kenapa ini harus terjadi, usiaku masih muda dan aku harus menjadi janda” suara parau Aya makin menyayat hatiku “ sabar, aya.. Allah Maha Penyayang percayalah pasti ada hikmah besar yang Allah siapkan untuk mu dan anakmu” hanya itu yang mampu ku ucapkan untuknya, selebihnya aku hanya mengelus rambutnya dan terus menenangkanya.
***
“bunda, mama belum balas surat Hany yach?” tanya Hany sambil memeluk ku manja “ belum sayang, anak bunda dah makan” aku mencium pipinya “sudah bunda, sekarang Hany lagi ngerjain PR sambil menunggu bunda” aku tersenyum “bunda mandi dulu yach sayang, abis itu kita sholat ashar, sayangku dah mandi khan?” ia mengangguk dan membalas senyumanku,aku meninggalkan Hany yang kembali berkutat dengan tugas sekolahnya, Hany memang manja, tapi dia begitu penurut dan tidak banyak tingkah, itu yang membuat ku makin menjadikanya belahan jiwaku, meski banyak hal menyakitkanku dengan alasan adanya dia, tapi bagiku itu adalah cobaan Allah, aku yakin Allah sudah menuliskan ini dalam garis hidupku, dan kemudian memerintahkan aku sabar, agar aku merasa tenang. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah 153)
“Mas tidak bisa berbuat apa2 Husni” Mas Rangga menunduk dalam, hingga aku tak mampu lagi memandang matanya, tak mampu mencari kebenaran di sana “mas tidak maw menyakiti mama, mama benar2 tidak bisa menerima Hany” mas Rangga melanjutkan. “tapi kenapa tidak bisa mas, Hany adalah titipan Allah padaku” entah untuk yang keberapa kali itu ku ucapkan pada mas Rangga , agar ia mengerti bahwa ketika kami berkeluarga , aku tidak bisa meninggalkan Hany “ seharusnya kami yang bertanya padamu, Hany bukan darah dagingmu, dia adalah anak sahabatmu, ia masih punya kakek, nenek, bahkan ayahnya masih hidup, kenapa tidak di serahkan saja kemereka” kini mas Rangga mendongak, menatapku tajam, menginginkan sebuah jawaban pasti hari itu juga. Aku tak mampu beradu pandang , mataku tak mampu lagi membendung aliran kepedihan di sana “sejak saat Aya meninggalkan Hany di rumahku, orang tuanya tau, mertuanya juga tau, dan ayah Hany pun tau, tapi mas juga tau khan mereka tidak pernah menginjak kan kaki kerumah ini, meski hanya menanyakan kabar Hany” suaraku serak , menahan sakit bahwa orang yang telah melamarku dengan mengucapkan kata bahwa ia ingin menikahiku karena Allah itu tak juga mengerti naluriku sebagai bunda Hany, “ sudahlah mas, aku tidak ingin memaksakan sebuah pernikahan, bagaimanapun aku tidak akan pernah menitipkan Hany pada siapapun , kecuali mereka dengan hati lapang menjemput Hany di rumah ini, aku akan menjadikan dia anak ku” ujarku tiba-tiba, keputusanku sudah bulat. Meski aku merasakan sakit, harus kehilangan orang yang kucintai dan ku impikan mendampingiku hingga sisa2 umurku, tapi aku tau pasti Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-hamba Nya yang tawakal, yang istiqomah terlunta-lunta dalam ke sengsaraan. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Albaqarah : 155)
Aku tidak akan sanggup berhadapan dengan Rosulullah di Yaumul akhir jika aku telah menelantarkan seorang yang membutuhkanku hanya karena aku ingin hidup berumah tangga, aku harus percaya bahwa mungkin memang mas Rangga bukan jodohku. Memang sejak hari itu mas Rangga sudah meninggalkanku, semua orang menganggap aku bodoh, bahkan orang tuaku sendiri dan saudara2ku menyayangkan keputusanku, mereka mulai menunjukan rasa tidak sukanya pada Hany, namun demi Allah, demi Rosulullah aku tidak akan meninggalkan Hany.
“kalo memang kamu mau menikah kenapa harus Hany yang di permasalahkan dek” tanyaku pada adik ku “mbak , dek ga mungkin menikah sementara mbak belum, tapi usia dek sudah 24, sudah harus menikah” jawabnya singkat, aku menghela nafas , aku taw kemana arah pembicaraan adik bungsuku ini, usianya 24 tahun dan aku telah 26 tahun bukan usia muda lagi , bahkan mungkin seharusnya dah punya anak dua “mbak ga pa2 kalo ade pengen menikah duluan, la wong mbak belum menemukan calon pendamping mbak kok” jawabku sekenanya “ bukan belum menemukan mbak, tapi karena Hany khan? Karna Hany mbak gagal menikah” ujarnya , “astaqfirullah de, Hany ga salah apa-apa, jangan bawa-bawa Hany dalam masalah mbak belum menemukan jodoh mbak, sudah mbak ga pa-pa adek menikah duluan” aku memang merasakan sakit ketika mengatakan itu, tapi bagaimanapun aku tau ini akan terjadi. “sekarang masalahnya gimana adek bilang ke ibu mbak? Ibu pasti tidak mengijinkan adek menikah sebelum mbak menikah” ia menatapku, mataku berkaca-kaca menahan perih “ mbak yang akan menjelaskan pada ibu” aku menunduk air mataku telah mengalir perlahan, bahuku terguncang ketika kurasakan rengkuhan adik ku “maafkan adek mbak” aku menggeleng pelan “Hany itu amanah, dia tidak salah apa-apa, mbak mohon jangan sakiti hatinya, percayalah ada hikmah besar yang Allah siapkan untuk kebahagiaan mbak dunia akhirat” aku merasakan anggukanya, dan kemudian terdengar isakan tangisnya.
Bukan perkara mudah bagiku ketika menghadapi pandangan kasihan orang-orang padaku ketika ijab kabul adik ku di nyatakan, ketika pesta meriah itu berlangsung di rumah orang tuaku, ibuku beberapa kali menangis, memandang dengan tidak suka pada Hany, aku mengenalkan ibu dan ayahku pada Hany sebagai nenek kakeknya. Tapi Hany seperti mengerti apa yang bergolak di hati keluargaku , ia tidak rewel bahkan tak mau berpisah dariku. Aku mulai memahami situasi setelah acara selesai aku segera pamit pada mereka , aku tidak mau merusak kebahagiaan mereka sedikitpun, aku hanya mampu berserah pada Allah atas bermacam-macam perasaan di hatiku, bahagia, sedih, terharu, dan juga risih dengan tatapan orang-orang padaku, ku tutup hari itu dengan sholat malam dan witir, mengharap Allah terus memberikan aku kekuatan dan keteguhan, karena aku tau akan ada hal yang lebih besar setelah ini, atau mungkin penantian panjangku akan berakhir, akan ada ikhwan yang mau menerima segala kekuranganku, itulah do’aku. ***
Assalamu’alaikum,
Ma, hari ini aku ingin peluk mama, aku ingin menangis bersama mama, bukan karena aku sedih ma, bukan tapi karena aku bahagia, hari ini guruku mengumumkan juara umum di kelas, mama tau ga ternyata Hany juara satu.
Aku ingin cium mama, aku hadiahkan juara kelas ini untuk mama
Mama kapan pulang Hany kangen mama, apa mama ga kangen lagi ma Hany. Bukankah mama selalu bilang kalo mama kangen ma Hany tapi kenapa ma, kenapa mama ga pengen peluk Hany? Hany ga butuh apa2 dari mama, Hany cuma pengen pelukan mama, ciuman mama
.
Nah khan Hany sedih , mama juga khan, kenapa mama biarin kita sedih , mama cepet pulang yach Hany kangeeeeeen banget ama mama, Hany tunggu mama di rumah.
Mama , bunda ata baik yach, Hany juga sayang bunda.
Wassalamu’alaikum
Anak mama
Hany
Aku melipat surat Hany dengan pilu, tetesan air mata tak mampu lagi ku bendung, anak sahabatku itu baru berusia 8 tahun ia baru saja menginjak kelas 3 SD, sudah banyak hal yang ia tau tentang hidup tapi sampai sekarang aku masih membohonginya, tentang mamanya yaitu sahabatku, sahabat karibku yang meninggalkanya di rumahku 5 tahun yang lalu.
Aku mengambil kertas di meja kerjaku menyiapkan sebuah kebohongan lagi untuk Hany entahlah itu untuk ke berapa kali, setiap ada kejadian baru di manapun Hany selalu menulis surat untuk mamanya, dan aku lah yang bertugas menyampaikanya. Dan seperti biasa aku membacanya di kantor , dengan air mata dengan rasa bersalah, dengan penyesalan, Hany yang lucu, Hany yang mewarnai hari-hariku, Hany yang selalu bercerita banyak hal padaku dia bukan anak ku , bukan darah dagingku, yang sewaktu-waktu bisa di ambil mamanya seperti yang di ucapkan di suratnya dulu, dan aku harus menyiapkan segalanya untuk melepasnya, meski tak rela tapi apa yang bisa ku perbuat.
Aku terkesiap, iya tiba-tiba aku tersadar bahwa aku tidak punya hak apa-apa atas Hany, jika kelak Aya datang dan berniat mengambil belahan jiwaku itu apa yang bisa ku lakukan? Jika aku berkata jangan mungkin tetangga-tetangga ku yang cukup mengerti aku akan mebelaku, tapi pengadilan, jika Aya membawanya ke pengadilan apa yang akan aku lakukan “Astaqfirullah” aku beristiqfar memohon Allah menjauhkanku dari prasangka buruk dan apapun yang meresahkan hatiku, aku yakin Allah telah menyiapkan yang terbaik untuk ku Hany dan Aya.
***
“Husni aku titip anak ku, aku pasti pulang untuk menjemputnya, tapi aku tidak bisa memastikan kapan, aku akan mencari kerja makanya aku tak bisa membawanya maafkan aku Husni”
Pesan singkat itu serasa menimbunku, aku serasa di jatuhi beban berat yang tak pernah ku pikul aku tak bisa membawanya namun aku harus menerimanya , aku seperti tak bisa bernafas, bagaimana mungkin aku harus mengurus anak sahabatku itu tiba-tiba, jika sebelumnya aku menampung mereka di rumah kontrakan itu untuk sementara, kini aku harus mengurus putrinya sendiri, tanpa Aya sahabatku, mamanya Hany, “ Ya Rabb’ apa yang harus hamba lakukan”
“Assalamu’alaikum” ucapan salam yang ku dengar parau itu membuyarkan konsentrasiku ketika aku berniat mengkhatamkan Juz 14 malam ini, tapi masih kurang dua a’in lagi aku terpaksa mengakhirinya , setelah mencium Mushafku dengan khidmat aku menanggalkan mukenaku tanpa ku rapikan “wa’alaikumsalam” langkahku setengah tergesa menghampiri pintu rumahku, ketika ku buka dengan pelan aku di kagetkan oleh sosok yang sangat ku kenal , dengan wajah pucat , ia menggendong seorang gadis kecil, dan mencangklong tas besar di punggungnya “astaqfirullah aya,” ujarku hampir tak terdengar, kulihat wajah aya makin mendung ada air mata yang hampir tumpah di sana namun berusaha ia bendung, aku segera menyuruhnya masuk mengajaknya keruang tengah , menyiapkan bantal untuk putrinya yang juga terlihat lelah, rambutnya awut-awutan terlihat begitu menyedihkan bagiku. Meski guratan kelelahan juga terlihat padanya tapi gadis sekecil itu masih tanpa beban.
“ada apa Aya” ujarku setelah mereka bersih dan terlihat lebih segar “aku akan di madu oleh suamiku” ujarnya pelan, “astaqfirullah” ku peluk aya, kurasakan kesedihan wanita yang hendak di madu itu, Fatimah putri Rosul saja menyatakan sakit ketika hendak di madu, apalagi wanita di hadapanku ini , “suamiku , tak perduli dengan keberatan yang ku ajukan,padahal pernikahan kami baru berusia 4 tahun, kenapa ini harus terjadi, usiaku masih muda dan aku harus menjadi janda” suara parau Aya makin menyayat hatiku “ sabar, aya.. Allah Maha Penyayang percayalah pasti ada hikmah besar yang Allah siapkan untuk mu dan anakmu” hanya itu yang mampu ku ucapkan untuknya, selebihnya aku hanya mengelus rambutnya dan terus menenangkanya.
***
“bunda, mama belum balas surat Hany yach?” tanya Hany sambil memeluk ku manja “ belum sayang, anak bunda dah makan” aku mencium pipinya “sudah bunda, sekarang Hany lagi ngerjain PR sambil menunggu bunda” aku tersenyum “bunda mandi dulu yach sayang, abis itu kita sholat ashar, sayangku dah mandi khan?” ia mengangguk dan membalas senyumanku,aku meninggalkan Hany yang kembali berkutat dengan tugas sekolahnya, Hany memang manja, tapi dia begitu penurut dan tidak banyak tingkah, itu yang membuat ku makin menjadikanya belahan jiwaku, meski banyak hal menyakitkanku dengan alasan adanya dia, tapi bagiku itu adalah cobaan Allah, aku yakin Allah sudah menuliskan ini dalam garis hidupku, dan kemudian memerintahkan aku sabar, agar aku merasa tenang. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah 153)
“Mas tidak bisa berbuat apa2 Husni” Mas Rangga menunduk dalam, hingga aku tak mampu lagi memandang matanya, tak mampu mencari kebenaran di sana “mas tidak maw menyakiti mama, mama benar2 tidak bisa menerima Hany” mas Rangga melanjutkan. “tapi kenapa tidak bisa mas, Hany adalah titipan Allah padaku” entah untuk yang keberapa kali itu ku ucapkan pada mas Rangga , agar ia mengerti bahwa ketika kami berkeluarga , aku tidak bisa meninggalkan Hany “ seharusnya kami yang bertanya padamu, Hany bukan darah dagingmu, dia adalah anak sahabatmu, ia masih punya kakek, nenek, bahkan ayahnya masih hidup, kenapa tidak di serahkan saja kemereka” kini mas Rangga mendongak, menatapku tajam, menginginkan sebuah jawaban pasti hari itu juga. Aku tak mampu beradu pandang , mataku tak mampu lagi membendung aliran kepedihan di sana “sejak saat Aya meninggalkan Hany di rumahku, orang tuanya tau, mertuanya juga tau, dan ayah Hany pun tau, tapi mas juga tau khan mereka tidak pernah menginjak kan kaki kerumah ini, meski hanya menanyakan kabar Hany” suaraku serak , menahan sakit bahwa orang yang telah melamarku dengan mengucapkan kata bahwa ia ingin menikahiku karena Allah itu tak juga mengerti naluriku sebagai bunda Hany, “ sudahlah mas, aku tidak ingin memaksakan sebuah pernikahan, bagaimanapun aku tidak akan pernah menitipkan Hany pada siapapun , kecuali mereka dengan hati lapang menjemput Hany di rumah ini, aku akan menjadikan dia anak ku” ujarku tiba-tiba, keputusanku sudah bulat. Meski aku merasakan sakit, harus kehilangan orang yang kucintai dan ku impikan mendampingiku hingga sisa2 umurku, tapi aku tau pasti Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-hamba Nya yang tawakal, yang istiqomah terlunta-lunta dalam ke sengsaraan. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Albaqarah : 155)
Aku tidak akan sanggup berhadapan dengan Rosulullah di Yaumul akhir jika aku telah menelantarkan seorang yang membutuhkanku hanya karena aku ingin hidup berumah tangga, aku harus percaya bahwa mungkin memang mas Rangga bukan jodohku. Memang sejak hari itu mas Rangga sudah meninggalkanku, semua orang menganggap aku bodoh, bahkan orang tuaku sendiri dan saudara2ku menyayangkan keputusanku, mereka mulai menunjukan rasa tidak sukanya pada Hany, namun demi Allah, demi Rosulullah aku tidak akan meninggalkan Hany.
“kalo memang kamu mau menikah kenapa harus Hany yang di permasalahkan dek” tanyaku pada adik ku “mbak , dek ga mungkin menikah sementara mbak belum, tapi usia dek sudah 24, sudah harus menikah” jawabnya singkat, aku menghela nafas , aku taw kemana arah pembicaraan adik bungsuku ini, usianya 24 tahun dan aku telah 26 tahun bukan usia muda lagi , bahkan mungkin seharusnya dah punya anak dua “mbak ga pa2 kalo ade pengen menikah duluan, la wong mbak belum menemukan calon pendamping mbak kok” jawabku sekenanya “ bukan belum menemukan mbak, tapi karena Hany khan? Karna Hany mbak gagal menikah” ujarnya , “astaqfirullah de, Hany ga salah apa-apa, jangan bawa-bawa Hany dalam masalah mbak belum menemukan jodoh mbak, sudah mbak ga pa-pa adek menikah duluan” aku memang merasakan sakit ketika mengatakan itu, tapi bagaimanapun aku tau ini akan terjadi. “sekarang masalahnya gimana adek bilang ke ibu mbak? Ibu pasti tidak mengijinkan adek menikah sebelum mbak menikah” ia menatapku, mataku berkaca-kaca menahan perih “ mbak yang akan menjelaskan pada ibu” aku menunduk air mataku telah mengalir perlahan, bahuku terguncang ketika kurasakan rengkuhan adik ku “maafkan adek mbak” aku menggeleng pelan “Hany itu amanah, dia tidak salah apa-apa, mbak mohon jangan sakiti hatinya, percayalah ada hikmah besar yang Allah siapkan untuk kebahagiaan mbak dunia akhirat” aku merasakan anggukanya, dan kemudian terdengar isakan tangisnya.
Bukan perkara mudah bagiku ketika menghadapi pandangan kasihan orang-orang padaku ketika ijab kabul adik ku di nyatakan, ketika pesta meriah itu berlangsung di rumah orang tuaku, ibuku beberapa kali menangis, memandang dengan tidak suka pada Hany, aku mengenalkan ibu dan ayahku pada Hany sebagai nenek kakeknya. Tapi Hany seperti mengerti apa yang bergolak di hati keluargaku , ia tidak rewel bahkan tak mau berpisah dariku. Aku mulai memahami situasi setelah acara selesai aku segera pamit pada mereka , aku tidak mau merusak kebahagiaan mereka sedikitpun, aku hanya mampu berserah pada Allah atas bermacam-macam perasaan di hatiku, bahagia, sedih, terharu, dan juga risih dengan tatapan orang-orang padaku, ku tutup hari itu dengan sholat malam dan witir, mengharap Allah terus memberikan aku kekuatan dan keteguhan, karena aku tau akan ada hal yang lebih besar setelah ini, atau mungkin penantian panjangku akan berakhir, akan ada ikhwan yang mau menerima segala kekuranganku, itulah do’aku. ***
No comments:
Post a Comment