By. Tiny
Dalam seperempat purnama aku menekuri ini
Menggugah hati tuk menyadari
Detik waktu yang merambat mendekat
Tiba masa semua hanya menjadi kisah
Masa lalu
Cintaku, memuncak pada selukis senyum memesona
Kepada sepasang alis bertemu
Kepada binaran mata memandang
Dan aku akan bertanya
Ingatkah engkau duhai pemilik senyum?
Saat kita bercerita di balik kaca
Kelak kita akan merenda cinta bersama
Meneguknya untuk kekuatan jiwa
Merinduinya untuk kenangan tak terlupa
Terfikirkah duhai pemilik binaran mata?
Berpisah itu menyakiti cinta
Tapi ia menguatkan rasa dengan sabar
Tak bersua itu mengundang tangis
Namun ia memberi arti tentang indahnya memiliki
Dan aku memejamkan mata
Terbayangkanlah kelak
Saat rindumu ada bersama senyummu
Masihkah rindu itu memilikimu
Batam, 7 May 2010
If tomorrow never come, you must know that I love you and I miss you so much _^_
Friday, 7 May 2010
Monday, 3 May 2010
Rinai Hujan Di Langit Batam
By. Tini
Hujan deras mengguyur kota menjelang petang kala itu, di bilangan kawasan industri sekupang Batam, laki-laki sangat muda itu tinggal. Tampak ia tengah berlari menembus air langit yang turun lebih lebat, memang pantang bagi seorang laki-laki menangis karena kecengengannya, tapi kini ia tak perduli, ia hanya ingin menangis untuk meluahkan sejuta gundah yang tengah ia rasakan, menumpahkan kesedihan seumpama anak termalang dari sekian anak-anak seusianya. Toh ketika tetesan air mata membasahi pipinya akan terlampau susah untuk dibedakan apakah itu air mata ataukah air hujan.
Apa sebab hatinya begitu berduka adalah ketika mimpinya tak jua menjadi nyata, rasanya mandeg satu tahun untuk meneruskan SMA adalah sudah cukup. Tapi tidak demikian faktanya, kesadaran barunya muncul bahwa kemiskinan orang tuanya adalah alasan utama kenapa ia masih harus merasakan pahitnya mengorbankan mimpi dan masa depannya.
***
Rumah tempat ia dan kedua orang tuanya bernaung di bangun di atas tanah yang memang bukan milik mereka, hidup di pinggiran lembah dan dengan di suguhi bentangan air laut di belakang rumah tempat mereka membuang berbagai macam limbah dan sampah. Taukah apa gambaran yang pas untuk keadaan mereka selain keadaan yang berkekurangan. Ia masih memiliki tiga orang adik, yang dua diantaranya harus tinggal di kampung halaman neneknya karena biaya sekolah di sana lebih terjangkau.
Dani, begitu ia biasa di panggil. Entah sejak kapan menyukai hujan. Apakah sejak ia bisa menangis tanpa takut disebut cengeng, atau sejak ia ingin marah namun tak kuasa? Kerap ia sendiri tak mampu menjawabnya. Usianya baru menginjak enam belas tahun dan sejak setahun yang lalu ia telah menjadi alumni sebuah Sekolah Menengah Pertama Negri dengan hasil yang baik. Namun hingga kini, orang tuanya belum mampu membantunya menggenapi biaya untuk mengecap manisnya bangku Sekolah Menengah Atas.
***
Dani baru saja menyelesaikan pekerjaan barunya, membantu sebuah usaha yang bergerak di bidang katering, yang juga menggaji ibunya, Dani tidak berbeda remaja kebanyakan, tapi ia lebih menjadi anak penurut dan ramah, keinginannya untuk meneruskan sekolah begitu kuat, hingga ia bersedia menerima saran orang tuanya untuk bekerja dahulu sebelum melanjutkan sekolah. Meski dari lubuk hatinya Dani iri pada anak-anak seusianya yang tidak perlu memikirkan kebutuhan sekolah, tugas mereka satu yaitu belajar. Mungkin kelak mereka akan menjadi orang-orang penting di negri ini atau akan menjadi manusia-manusia yang mampu merubah peradaban.
Kegiatan Dani lainnya adalah menjadi muadzin di Mushola Subulussalam yang tak jauh dari rumahnya, meski dengan pemahaman agama yang pas-pasan. Dani bisa mengeja huruf Al Qur'an. Dani juga punya sahabat-sahabat yang sering ia ajak nongkrong di depan rumah genjrang-genjreng dengan gitar jadul mereka, menyanyikan lagu terkini dan sedang hit, sekadar pengusir lelah dan resah.
***
Genap setahun sudah Dani bekerja, meski serabutan dan tidak jelas gaji nya, tapi Dani masih sangat berharap itu bisa menjadi modal sekolahnya. Ah.. semangatnya masih sama, keinginan itu juga masih sangat sama. Dengan langkah hati-hati Dani mendekati sang ayah mencoba meluluhkan hati beliau dengan keinginannya.
"Ayah, tahun ini Dani sekolah ya, umur Dani sudah enam belas tahun " ujarnya sambil memainkan ujung sarung sebagai selimut tidurnya.
Sesaat hanya helaan nafas sang ayah yang terdengar. Menambah jantung Dani berdebar-debar, baginya ini keputusan akhir. karena jika tidak sekarang kelak usianya sudah tujuh belas tahun dan sangat tipis harapannya bisa terwujud.
"Tidak ada biaya" Begitu akhirnya jawaban singkat dari sang ayah. Dani tidak berkomentar lebih, ia memejamkan mata, menahan sesak di dadanya, dia benar-benar ingin menangis tapi cuaca sedang tak bersahabat dengan air matanya, kekuatan hatinya mencoba menahan ledakan pilu yang begitu membuatnya sedih.
Dan dua tahun itu berlalu, kini Ia harus menuruti kemauan orang tuanya, bekerja dan bekerja, karena memang tak ada pilihan lain , sebuah galangan kapal yang berlokasi di Tanjung Uncang , bersedia menerimanya menjadi karyawan, menggajinya setiap bulan, usianya telah menginjak 17 tahun dan baginya kini semua impiannya sudah berlalu.
***
Belum genap empat bulan ketika kecelakaan kerja itu merenggut nyawanya, usianya dengan wajah yang bagi semua orang teramat muda tidak menghalangi maut menjemputnya. Dani menghembuskan nafas terakhirnya dengan menahan rasa sakit di kepalanya ketika ia terjatuh dari ketinggian pada saat menyelesaikan pekerjaannya, Rinai hujan di langit batam dan tangisan mengiringi kepergianya, menyesali kenapa begitu cepat ia pergi, berandai-andai ini dan itu.
Tiada hidup yang abadi, Ia yang datang, akan pergi. Seorang penguasa, pengemis atau pertapa - setiap orang yang lahir pasti mati. Menghembuskan nafas terakhir di atas tahta, atau diseret ke dalam kubur dengan kaki dan tangan terikat, apa bedanya?
***
Selamat Hari Pendidikan
Cerpen lama setelah diedit, untuk almarhum sahabat atau adik, semoga Allah menerima amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu, amin.
Sunday, 25 April 2010
Pendekar Berjilbab Putih Part 2
Episode lalu: Yasa di bawa kabur oleh sekelebat bayangan saat hendak menyerang Meyda yang tidak sempat mengetahui siapa gerangan yang ia taksir memiliki ilmu meringankan tubuh mengagumkan itu.
“Aisyah RadhiAllahuanha, adalah ummul mukminin yang dekat dengan ilmu, kepiawaiannya dalam menafsirkan Al Qur’an dan meriwayatkan hadist Rosulullah Shalallahualaihi wasalam, tak pernah diragukan oleh para sahabat dan khalifah” Meyda menghentikan kalimatnya, ia tatap wajah antusias para murid kecilnya dengan senyum.
Seorang gadis kecil mengangkat tangan “Apa Aisyah cantik seperti Ibunda guru?”
Meydia tersipu, dengan senyum ia menganggukan kepala “Aisyah adalah istri kecintaan Rosulullah, ia sangat cantik, lebih cantik daripada ibunda guru sayang…”
“Apa Aisyah bisa berperang Ibunda guru?”
“Tidak, tapi Aisyah dengan ilmu yang ia miliki telah mengobarkan semangat kaum mujahid untuk berperang ”
“Karena itu kita harus belajar ibunda guru?”
“Tentu saja, bagus sekali, kalian pintar dan sudah paham” Meyda tersenyum puas .
Para murid kecilnya tertawa senang, dan mulai mengemasi peralatan belajar tanpa diminta setelah mata pelajaran usai, dan setelah membaca do’a penutup, mereka berlarian untuk berebut mencium tangan Meyda.
Sebuah tawa keras mengagetkan mereka, membuat para murid kecilnya beringsut mengkerut di balik tubuh Meyda yang segera berdiri tegap , waspada.
Segerombolan manusia berjumlah tujuh orang yang berpakaian serabutan mendekat, dilihat dari penampilannya mereka adalah penjahat dan ini dibenarkan oleh seorang gadis kecil yang membisikan kalimat pelan kearah telinga Meyda yang segera membungkukkan badan “mereka itu yang suka memukuli para penjual di pasar ibunda guru” Meyda mengangguk paham.
“Apa kepentingan kisanak semua datang ke tempat kami ini dengan mengindahkan etika bertamu dengan baik” Meyda membuka suara
“Hahaha, tidak usah berbelit-belit gadis cantik, siapa yang mengijinkanmu mengajar anak-anak dusun ini tanpa sepengetahuan kami hah!”
“Siapa kalian dan apa urusan kalian”
“Hahahahaha” suara tawa membahana memenuhi ruang tak begitu besar, berdiding papan dan beratap rumbai itu.
“Kami adalah penjaga di dusun ini, siapapun orang baru yang membuat kegiatan di sini harus membayar pajak kepada kami”
“Pajak? Kepala dusun tidak pernah menyinggung tentang pajak”
Lagi-lagi terdengar suara ejekan dengan kerasnya tawa, murid-murid Meyda ketakutan saling merapat satu dengan lainnya. Meyda harus cepat membuat keputusan
“Saya tidak akan membayar pajak” ujarnya
“Hahahahaha, jangan nekad gadis cantik, wajah cantikmu itu akan berubah menjadi monster kalau kau melawan”
“SAYA TUNGGU KALIAN DI BUKIT REJOSARI UNTUK MENYELESAIKAN INI” tulisnya di atas sebuah kertas, menghindari anak-anak kecil mendengarnya.
“Dengar, jika kalian merasa malu mengeroyoku di depan anak kecil, turuti ini”para penjahat itu langsung berembuk. Sesorang membisikan sesuatu kepada pemimpinnya yang di sambut tawa sumringah, ada cahaya mesum yang terpancar dari pandangan matanya.
Meydia bisa menangkap itu, “lelaki biadap” bisik hatinya, ia biarkan mereka pergi dengan tawa mereka. Dan setelah mereka menjauh Meyda segera menenangkan para murid kecilnya , menghapus air mata gadis kecil yang sempat menangis .
“Dengar Andini sayang, tidak ada yang perlu di takutkan dari manusia seperti mereka, wanita harus kuat seperti Khansa”
“Siapa Khansa ibunda guru”
“Besok ibunda guru ceritakan” Andini mengangguk dan mengusap air matanya
“Baiklah , ibunda guru antar kalian pulang” dan dalam sekejab suasana sepi menyergap ruangan itu.
***
Yasa mengerjapkan matanya, ia baru tersadar setelah semalaman tertidur, pandangannya menyusuri ruangan tempat ia tergeletak, ia baru ingat semalam gurunya yang membawanya dirumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya hingga ia tumbuh dewasa ini, dipojok, didekat jendela sana tersedia singkong rebus dan kopi yang masih mengepulkan asap tanda baru saja di hidangkan, tapi ia masih tak menemukan sang guru.
Segera ia mengangkat tubuhnya untuk beranjak, rasa sakit di perutnya sudah benar-benar sirna, ia ingat kekalahannya atas Meydia , “memalukan” bisik hatinya. Dan matanya telah menangkap sosok sang guru yang tengah duduk bersila di atas batu dengan tangan menangkup di dada layaknya semedi kala ia telah berdiri di pintu. Deburan ombak laut tempat gurunya menghadap seringkali di tingkahi oleh semilir angin memecah kesenyuian namun tetap menciptakan suasana tenang.
“Kau sudah bangun” ujar sang guru masih memejamkan mata saat ia mendekat. Ia tau gurunya punya indra keenam yang bisa merasakan kehadiran orang lain tanpa harus melihat langsung.
“Iya guru, terimakasih sudah menyembuhkan rasa sakit ini, tapi kenapa guru membawa saya kabur dari sana? Bukankah itu sangat memalukan” guru tersenyum sinis, masih dengan mata tertutup
“Seorang pendekar juga tidak boleh mati konyol bukan, kau masih memiliki banyak tugas yang harus di selesaikan”
“Tapi guru, pendekar wanita itu…”
“Kau hanya butuh berlatih lebih keras lagi, jangan malas!!! Seorang pemalas hanya akan mendapati ilmunya setengah-setengah, paham?”
“Baik guru, tapi … apa benar para warga dusun itu tidak sepenuhnya bersalah guru?”
“Jangan percayai musuh, kau bisa melihat sendiri kejahatan mereka dulu, apa kau percaya begitu saja?
Kita akan membuat taktik melawan pendekar wanita itu, dia membahayakan misimu”
Yasa terpekur, kesedihannya mengingat tragedi belasan tahun lalu menerbitkan dendam membara dihatinya.
***
bersambung...
“Aisyah RadhiAllahuanha, adalah ummul mukminin yang dekat dengan ilmu, kepiawaiannya dalam menafsirkan Al Qur’an dan meriwayatkan hadist Rosulullah Shalallahualaihi wasalam, tak pernah diragukan oleh para sahabat dan khalifah” Meyda menghentikan kalimatnya, ia tatap wajah antusias para murid kecilnya dengan senyum.
Seorang gadis kecil mengangkat tangan “Apa Aisyah cantik seperti Ibunda guru?”
Meydia tersipu, dengan senyum ia menganggukan kepala “Aisyah adalah istri kecintaan Rosulullah, ia sangat cantik, lebih cantik daripada ibunda guru sayang…”
“Apa Aisyah bisa berperang Ibunda guru?”
“Tidak, tapi Aisyah dengan ilmu yang ia miliki telah mengobarkan semangat kaum mujahid untuk berperang ”
“Karena itu kita harus belajar ibunda guru?”
“Tentu saja, bagus sekali, kalian pintar dan sudah paham” Meyda tersenyum puas .
Para murid kecilnya tertawa senang, dan mulai mengemasi peralatan belajar tanpa diminta setelah mata pelajaran usai, dan setelah membaca do’a penutup, mereka berlarian untuk berebut mencium tangan Meyda.
Sebuah tawa keras mengagetkan mereka, membuat para murid kecilnya beringsut mengkerut di balik tubuh Meyda yang segera berdiri tegap , waspada.
Segerombolan manusia berjumlah tujuh orang yang berpakaian serabutan mendekat, dilihat dari penampilannya mereka adalah penjahat dan ini dibenarkan oleh seorang gadis kecil yang membisikan kalimat pelan kearah telinga Meyda yang segera membungkukkan badan “mereka itu yang suka memukuli para penjual di pasar ibunda guru” Meyda mengangguk paham.
“Apa kepentingan kisanak semua datang ke tempat kami ini dengan mengindahkan etika bertamu dengan baik” Meyda membuka suara
“Hahaha, tidak usah berbelit-belit gadis cantik, siapa yang mengijinkanmu mengajar anak-anak dusun ini tanpa sepengetahuan kami hah!”
“Siapa kalian dan apa urusan kalian”
“Hahahahaha” suara tawa membahana memenuhi ruang tak begitu besar, berdiding papan dan beratap rumbai itu.
“Kami adalah penjaga di dusun ini, siapapun orang baru yang membuat kegiatan di sini harus membayar pajak kepada kami”
“Pajak? Kepala dusun tidak pernah menyinggung tentang pajak”
Lagi-lagi terdengar suara ejekan dengan kerasnya tawa, murid-murid Meyda ketakutan saling merapat satu dengan lainnya. Meyda harus cepat membuat keputusan
“Saya tidak akan membayar pajak” ujarnya
“Hahahahaha, jangan nekad gadis cantik, wajah cantikmu itu akan berubah menjadi monster kalau kau melawan”
“SAYA TUNGGU KALIAN DI BUKIT REJOSARI UNTUK MENYELESAIKAN INI” tulisnya di atas sebuah kertas, menghindari anak-anak kecil mendengarnya.
“Dengar, jika kalian merasa malu mengeroyoku di depan anak kecil, turuti ini”para penjahat itu langsung berembuk. Sesorang membisikan sesuatu kepada pemimpinnya yang di sambut tawa sumringah, ada cahaya mesum yang terpancar dari pandangan matanya.
Meydia bisa menangkap itu, “lelaki biadap” bisik hatinya, ia biarkan mereka pergi dengan tawa mereka. Dan setelah mereka menjauh Meyda segera menenangkan para murid kecilnya , menghapus air mata gadis kecil yang sempat menangis .
“Dengar Andini sayang, tidak ada yang perlu di takutkan dari manusia seperti mereka, wanita harus kuat seperti Khansa”
“Siapa Khansa ibunda guru”
“Besok ibunda guru ceritakan” Andini mengangguk dan mengusap air matanya
“Baiklah , ibunda guru antar kalian pulang” dan dalam sekejab suasana sepi menyergap ruangan itu.
***
Yasa mengerjapkan matanya, ia baru tersadar setelah semalaman tertidur, pandangannya menyusuri ruangan tempat ia tergeletak, ia baru ingat semalam gurunya yang membawanya dirumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya hingga ia tumbuh dewasa ini, dipojok, didekat jendela sana tersedia singkong rebus dan kopi yang masih mengepulkan asap tanda baru saja di hidangkan, tapi ia masih tak menemukan sang guru.
Segera ia mengangkat tubuhnya untuk beranjak, rasa sakit di perutnya sudah benar-benar sirna, ia ingat kekalahannya atas Meydia , “memalukan” bisik hatinya. Dan matanya telah menangkap sosok sang guru yang tengah duduk bersila di atas batu dengan tangan menangkup di dada layaknya semedi kala ia telah berdiri di pintu. Deburan ombak laut tempat gurunya menghadap seringkali di tingkahi oleh semilir angin memecah kesenyuian namun tetap menciptakan suasana tenang.
“Kau sudah bangun” ujar sang guru masih memejamkan mata saat ia mendekat. Ia tau gurunya punya indra keenam yang bisa merasakan kehadiran orang lain tanpa harus melihat langsung.
“Iya guru, terimakasih sudah menyembuhkan rasa sakit ini, tapi kenapa guru membawa saya kabur dari sana? Bukankah itu sangat memalukan” guru tersenyum sinis, masih dengan mata tertutup
“Seorang pendekar juga tidak boleh mati konyol bukan, kau masih memiliki banyak tugas yang harus di selesaikan”
“Tapi guru, pendekar wanita itu…”
“Kau hanya butuh berlatih lebih keras lagi, jangan malas!!! Seorang pemalas hanya akan mendapati ilmunya setengah-setengah, paham?”
“Baik guru, tapi … apa benar para warga dusun itu tidak sepenuhnya bersalah guru?”
“Jangan percayai musuh, kau bisa melihat sendiri kejahatan mereka dulu, apa kau percaya begitu saja?
Kita akan membuat taktik melawan pendekar wanita itu, dia membahayakan misimu”
Yasa terpekur, kesedihannya mengingat tragedi belasan tahun lalu menerbitkan dendam membara dihatinya.
***
bersambung...
Friday, 23 April 2010
Tiba-tiba , Lagi-Lagi
Tiba-tiba menjadi penakut
Melihat kekurangan diri tak disuka manusia lainnya
Seberapa diri menghibur dengan kesabaran
Seberapa ketakutan membuat tak berdaya
Tiba-tiba menjadi pengecut
Melihat kobaran api melalap tempat berpijak
Seberapa diri menyadarkan hanya buaian
Seberapa kepengecutan merenggut keberanian
Tiba-tiba ingin menangis
Menyadari lagi-lagi merasa begini
Merindukan Tuhan tapi tak menemukan cahaya
Tak menangkap jalan menuju Nya
Melihat kekurangan diri tak disuka manusia lainnya
Seberapa diri menghibur dengan kesabaran
Seberapa ketakutan membuat tak berdaya
Tiba-tiba menjadi pengecut
Melihat kobaran api melalap tempat berpijak
Seberapa diri menyadarkan hanya buaian
Seberapa kepengecutan merenggut keberanian
Tiba-tiba ingin menangis
Menyadari lagi-lagi merasa begini
Merindukan Tuhan tapi tak menemukan cahaya
Tak menangkap jalan menuju Nya
Thursday, 25 March 2010
Bumbu Cinta Masakan Umi
By. Tini
Cerpen ini di ilhami oleh ungkapan seseorang yang saya hormati , Ibu dari adik-adik saya Rani, Mutya, dan Raihan. Di dedikasikan untuk ibu yang telah melahirkan saya dan untuk seluruh Ibu di dunia yang memberikan bumbu cinta pada setiap masakan untuk keluarga tercinta
Cerpen ini di ilhami oleh ungkapan seseorang yang saya hormati , Ibu dari adik-adik saya Rani, Mutya, dan Raihan. Di dedikasikan untuk ibu yang telah melahirkan saya dan untuk seluruh Ibu di dunia yang memberikan bumbu cinta pada setiap masakan untuk keluarga tercinta
"Umi , umi hali ini macak apa"
Itu yang sering ku dengar dari bibir mungil adik bungsuku adalah adikku satu-satunya, yang ibarat berjalan gaya bicaranya masih tertatih-tatih.. Dan seperti biasa umi akan menunjukan sebuah gambar yang melekat pada majalah resep masakan kesukaan beliau
"Ayam goreeeng" begitu sorak umi kami sambil tertawa
"Hoyeeee, ayam goyeng" dan sibungsupun ikut tertawa memeluk umi penuh kasih, yang kutau memang itulah makanan kesukaannya, meski ia selalu bersemangat terhadap semua masakan umi. Dan setelah itu mereka akan bercanda sambil menyiapkan menu, sedangkan aku masih tak berniat beranjak, tugasku adalah belajar, belajar dan belajar , tapi tidak untuk belajar memasak.
***
"Umi, hari ini Abi pulang, kita masak apa ya?" begitu tanya adik bungsuku kala ia sudah duduk di kelas enam dan aku kelas sembilan.
"Hmmm" Dahi Umi mengkerut , seolah berfikir keras , padahal aku tau pasti Umi sudah punya rencana memasak apa, beliau hanya sedang ingin membuat adikku memberikan ide, ya hanya ide adikku untuk yang satu ini, karena sudah pasti aku tak memiliki ide apapun. Menyambut kepulangan Abi dari Tanjung Pinang setelah menyelesaikan pekerjaannya mencari nafkah , menjadi moment yang berharga untuk masakan mereka.
"Ah Umi... Abi khan suka pelas udang kukus buatan Umi, kita masak itu saja" rengeknya, dan akhirnya tawa itu sempurna, tapi tidak untuk tawaku, hanya senyum tipis melihat indahnya hubungan ibu-anak ini. Tapi tak lama tawaku juga akan terlepas ketika Umi bertanya tentang sekolahku, tentang pelajaran yang kusukai , tentang prestasiku menulis hingga mendapat nilai berapa dalam pelajaran seni dan sastra, karena disanalah bakatku berada, setidaknya begitu yang sering kudengar dari kebanyakan sahabatku, termasuk Umi.
***
Berkali-kali kulihat umi mengusap peluh yang merembes di keningnya, ketika beliau memasak untuk makan malam kami, ada yang kurang beres kulihat , umi sedang kurang baik kesehatannya.
"Umi sakit?" aku mendekat memegang pundaknya , merasakan umi tengah menggigil
"Astaghfirullah, sudah Umi, Umi harus istirahat"
"tidak apa, umi harus menyelesaikan ini"
"Tidak umi, biar Handa saja" begitu janjiku untuk menghentikan kegiatannya, dan aku tau kenapa umi memberikan tatapan ragu terhadapku, andai adikku tak memiiliki kegiatan ektrakulikuler di kelas tujuhnya sore ini, aku tak harus berjanji menyelesaikan kegiatan masak-memasak ini.
Dan benar saja, masakanku hampir tak tersentuh di meja makan, padahal berkali-kali ku intip penampilannya tak jauh beda dengan masakan umi biasanya , sup ayam dan udang masak kecap yang berwarna cokelat karena memang begitu warna kecapnya, ya aku akui ketika menghidangkannya aku tak menghirup aroma sedap seperti masakan Umi, tapi apa salahnya mereka mencicip sedikit saja dengan rasa senang, meski aku sendiri sangsi tentang rasanya.
"Kami menghawatirkan kesehatan Umi" begitu aku berpositive thinking, saat kulihat Abi dan adikku ogah-ogahan makan.
***
"Tau kenapa masakan Umi enak?" Umi berkata pada adikku
"Kenapa Umi?"
"Karena Umi meracik bumbunya dengan bumbu cinta" jawab Umi tersenyum
"Bumbu cinta?"
"Ya, karena memiliki kalian adalah anugerah untuk Umi, adalah amanah Allah yang harus Umi jaga sebaik-baiknya, kalian berdua anak-anak Umi yang kelak akan membangun peradapan dunia menjadi lebih baik, dan menjadi tanggung jawab Umi untuk menjaga kesehatan kalian dengan makanan sehat dan tentu lezat, setiap masakan Umi adalah di penuhi dengan cinta , ikhlas dan penuh pengharapan semoga yang halal ini akan menambah ghirahkalian dalam menjalankan perintah Allah, itu sebabnya kenapa Umi tak perduli harus memasak berapa kali setiap kalian dan Abi kalian lapar" Umi tertawa tanpa suara , hanya baris giginya yang rapi dan wajah cerah kami dapati.
"Kalian tau cerita tentang ketabahan Siti Fatimah, putri kecintaan Rosulullah Sholallahu'alaihi wasalam" lanjutnya
Kami diam, namun penuh ekspresi ingin tau.
"Beliau adalah sosok teladan bagi kaum muslimah yang tak pernah mengeluh , untuk menyediakan makanan bagi suami dan anak-anaknya , beliau harus rela menggiling padi hingga berpeluh-peluh dan tangan lecet, tapi masih dengan cinta beliau melakukannya , adalah janji Allah bahwa setiap ibu yang menyediakan makanan untuk suami dan anaknya dengan keikhlasan, maka dosanya akan di ampuni sebanyak buliran gandum/beras yang ia sediakan" Umi tersenyum
Dan adikku langsung memeluk Umi, Ia tersedu-sedu sambil terus berterima-kasih dan memuji bahwa masakan Umi tiada duanya, sedang aku hanya menunduk , menyembunyikan mata berkaca tapi tak pernah mengungkapkan bahwa masakan Umi memang yang terlezat yang pernah kurasa, "ah bumbu cinta, indahnya kalimat Umiku ini".
***
Adikku tersenyum manis di panggung tempat ia duduk menghadap para audiens yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga termasuk aku, sekali-kali ia menatapku masih dengan senyum manisnya, ia di undang sebagai pembicara dalam acara bedah buku "Masakan Ibu" yang merupakan kumpulan dari resep-resep yang sering ia tampilkan di sebuah televisi swasta yang kini telah melambungkan namanya sebagai koki terbaik.
"bagaimana anda bisa belajar begitu banyak masakan dan semuanya menjadi masakan lezat?" seorang bertanya sambil berdiri
"saya selalu belajar dari Umi" begitu adikku menjawabnya
"Beliau bukan koki terkenal , tapi koki terbaik yang saya kenal, sejauh ini belum ada yang bisa menandingi kelezatan masakan beliau di lidah saya, suatu hari Umi pernah berkata bahwa kenapa masakan beliau enak adalah karena setiap bumbu yang beliau racik selalu di taburi dengan rasa cinta dan keikhlasan , dan itulah resep yang selalu saya tuangkan dalam setiap masakan saya, hanya saja saya tidak pernah menuliskannya di buku ini " audiens tertawa
Tapi aku menangis, karena dulu semasa Umi menyediakan masakan untuk kami , meski aku mengakui apa yang di katakan adikku benar adanya aku tak pernah sekalipun memujinya, aku tak hebat berkomentar soal rasa masakan, namun kini berkali-kali aku ingin melakukannya sejak aku tak lagi bisa merasakannya karena beliau telah berpulang. Aku ingin berkata "bumbu cinta masakan Umi tak terkalahkan , bahkan oleh adikku sekalipun."
***
Batam 24 Maret 2010
Monday, 22 March 2010
Untuk Malaikat Kecil

By. Tini
Tak perlu
Tak perlu kau tanyakan padaku lagi kenapa rindu ini membuncah saat tak kulihat kedipan matamu
Tak perlu sayang
Tak perlu kau sangsikan betapa cinta yang kumiliki untukmu tak pernah bisa di ukur dengan satuan besaran apapun…
Ahai
Lihat tawamu itu, menampakan barisan gigi yang baru saja tumbuh dua-dua
“ba-ba be-be” dengar celotehmu mengalahkan nyanyian merdu penyanyi kesukaanku
Dan “puk” tangan kecilmupun mampir kepipiku , saat ku endus hidungmu dengan ungkapan sayangku
Aku tertawa, meski terkadang pukulanmu menumbuhkan sedikit rasa sakit di kulit ini
Dan aku juga ingin menangis, Melihat matamu dan mata umimu berkaca juga teriakanmu
Saat umimu melepaskan pelukannya , Demi nafkah dan masa depanmu
Seakan kami dengar engkau berteriak “umiiii ikuuuuuuuuuuut”
Lihat sayang
Sepanjang jalan umimu bersedih , ia ingin dekat denganmu
Selalu, sepanjang hari , sepanjang detik
Untuk malaikat kecil
Dan di miladmu yang pertama
Semoga Allah karuniakan kesehatan padamu, semoga Allah sebaik-baik penjaga memeliharamu
Mencintaimu
Mendidikmu
Melindungimu
Mengasihimu
Memberikan segala terbaik untukmu
Amah Tini love Alif
“ucapan selamat ulang tahun untuk Alif yang sudah terlewati 12 Maret , dan Umi Alif yang menjelang 27 Maret, Amah sayang kalian”
Friday, 19 March 2010
Pendekar Berjilbab Putih

Pernah suka cerita tentang pendekar ga? aku dulu sampai sekarang suka banget, suka baca tentang pendekar 212, trus liat Angling Dharma versi dulu...
Dan udah lama banget melupakan itu, tapi kemaren sempet baca cerita tentang Khaulah binti Azwar yang ikut berperang membela para muslimin dan berada di barisan para muslimah lainnya, kemudian dengan besarnya cinta yang ia miliki pada Dhirar bin Azwar sang kakak saat di tawan musuh , ia telah menjadi Ksatria Bercadar Hitam dan mampu memporak-porandakan barisan musuh, membakar semangat kaum muslimin untuk menang.
Dan gara-gara itu tiba-tiba pengen menulis kisah fiktif tentang Pendekar Berjilbab Putih , hehe
Sesosok bayangan berkelebat , hinggap diam dalam sebuah ranting pohon yang harusnya patah menahan tubuhnya, tapi tidak .. mungkin bayangan itu menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.
“wanita itu akan menyesal telah mencampuri urusanku” geramnya
Kemudian tangannya terbentang , wajahnya lurus menghadap langit , ia berkonsentrasi terhadap dua telapak tangannya yang menghasilkan bias cahaya memerah , dan dengan tenaga dalamnya ia hendak menyabetkan seluruh cahaya itu ke bangunan yang ia awasi sedari tadi.
Tapi gerakannya tertahan oleh sebuah suara yang mangagetkannya
“aku tau kau akan melampiaskan kekesalanmu pada gedung tempatku mengajar anak-anak di dusun ini Yasa, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi”
Suara tenang yang merambat melalui udara dengan tenang sampai ke telinga pria yang di panggil Yasa , bernama lengkap Gayasa Ganda Pramudia. Namun justru tak menghasilkan suara tenang di bilik hatinya kecuali amarah yang membara.
Gadis berpakaian putih abu-abu lengkap dengan kerudung pembungkus auratnya itu berdiri tegap, sebilah pedang terselempang di balik punggungnya.
“jangan memancing amarahku hingga memaksaku melukai tubuhmu Meyda, kita di sini punya urusan masing-masing , jangan campuri urusanku”
“aku tidak akan mencampuri urusanmu jika kau tidak melukai warga dusun ini sesukamu, kalo kau tidak membuat mereka resah dengan sepak terjangmu” gadis yang bernama Meyda Khairandani berujar dengan menaikan suaranya satu tingkat.
“mereka harus membayar apa yang telah mereka lakukan pada keluargaku, kau tau rasanya melihat kedua orang tuamu di bunuh secara mengerikan di depan matamu dengan tuduhan kesalahan yang tidak pernah mereka perbuat?” suara Yasa bergetar menahan marah
“itu bukan kesalahan mereka sepenuhnya, dan kau tidak berhak membuat anak-anak mereka mengalami nasib serupa”
“tau apa kau tentang kesalahan mereka”
“lebih tau darimu yang hanya di pengaruhi oleh otak dendam dan keegoisan”
“kau!!!” Yasa melotot , kemarahannya sudah tak terbendung, dalam sekali lompatan ia telah berdiri sejajar di hadapan Meyda berjarak beberapa tombak.
Meyda masih berdiri tenang , namun kakinya telah membentuk kuda-kuda tak kentara.
“ruhmu akan menyesali tindakan bodohmu, hiyaaaaaaaaaat” Yasa telah menyerang Meyda dengan kepalan tangannya di sertai tenaga dalam.
Meyda segera mundur menghindar, namun tendangan Yasa hampir menyentuh tubuhnya jika ia tak segera berguling. Dengan secepat kilat ia berdiri , menyusun kekuatan dengan segera, ia tak berniat melukai Yasa , kecuali membuat Yasa berfikir ulang tentang tindakannya, tapi serangan demi serangan yang di luncurkan yasa membuatnya terpaksa harus melumpuhkan pertahanan lawannya yang tidak main-main itu.
“ayo lawan Meyda , jangan hanya menghindar”
“aku tidak ingin bertarung denganmu Yasa, tapi jika kau paksa , maka maaf ..” dengan sekali gebrakan Meyda telah meluncurkan serangan kepada Yasa yang kaget dan tak sempat mengelak jauh , Yasa terpental kebelakang menahan sakit di perutnya karena tendangan Meyda.
“pergilah Yasa , tinggalkan dusun ini dan belajarlah memaafkan mereka, cari tau kenapa para warga melakukan tindakan pembunuhan itu dulu.
“aku tidak akan menyerah” Yasa hendak bangkit melawan lagi saat sekelebat bayangan hitam menangkap sosoknya dan membawa kabur.
Meyda , pendekar berjilbab putih kaget , dan tak bisa lagi mengejar bayangan yang membawa tubuh Yasa pergi.
Bersambung…
Subscribe to:
Posts (Atom)