Assalamu'alaykum, selamat datang di blog sederhana saya, selamat membaca! silahkan berkomentar & tinggalkan link anda untuk di kunjungi, terima kasih

Wednesday, 7 September 2011

Menulis (Lagi)

Lagi-lagi sekian lama meninggalkan blog ini tanpa tulisan dan tanpa kunjungan. Banyak sekali yang ingin di tulis, tapi sepertinya aku ingin bilang bahwa, bakat menulisku sudah hampir hilang sekarang.Padahal dulu aku pernah bilang pada setiap kawan yang bertanya, bagaimana caranya membuat tulisan ini ataupun itu, dan jawabanku simple saja, menulislah tanpa perduli orang lain menyukainya atau tidak, menulislah apa yang ingin kau tulis.

Aku resmi menikah dengan orang yang kucintai, Ahmad Rizkan  pada 8 Agustus 2010 lalu, dan kini usia pernikahan kami sudah memasuki tahun kedua, tak ada kata lain bahwa aku bersyukur diamanahi tanggung jawab menjadi istrinya.

Di edisi menulis lagiku, sedikit saja yang ingin kubagi :)

Tuesday, 1 February 2011

Menunggu, Mendapatkan, Kehilangan

Kami, selayaknya pasangan yang menikah pada umumnya, memiliki keturunan adalah salah satu tujuan  dari pernikahan kami. Mendidik anak-anak yang lahir dari darah daging kami dan juga mengemban amanah Nya untuk melahirkan generasi yang takut kepada Nya.

Namun hidup harus selalu tunduk pada Yang Maha Memberi, hingga bulan kelima berjalan  tamu bulananku masih setia berkunjung. Dan kami sadar ini adalah jawaban Rabb’ kami atas do’a yang senantiasa di mohonkan suamiku “Ya Allah, karuniakan anak pada kami di saat yang tepat”.

Dan saat yang tepat itu kemudian kami dapatkan pada bulan januari. Aku berselimut rasa haru ketika menyadari  hendak jadi ibu, ketika meraba perutku yang di dalamnya tengah tumbuh segumpal darah yang bernama  janin.  Ungkapan syukur  tak henti kami panjatkan. Allah tak membiarkan kami menunggu begitu lama.

Sejak dokter menyatakan aku positif hamil meski masih ragu-ragu karena belum terlihat tanda-tanda kehamilan saat di USG. Aku mulai berhati-hati menjaga kandunganku, menjauhi makanan yang notabene bisa membuatku gagal hamil. Terkadang akupun sering mengajak janinku berbicara, kembali aktif ber tadarus Al Qur’an yang kemudian ku tutup dengan do’a , semoga Allah mengilhamkan kebenaran ayat-ayat Alqur’an padaku dan pada anakku.

Semua terasa berjalan begitu singkat, ketika di penghujung bulan yang sama aku merasakan sakit luar biasa di rahimku dibarengi bercak darah selayaknya haid. Dokter tempat pertama aku memeriksakan diri menyatakan aku tengah kontraksi dan mungkin mengalami abortus. Sebelum kemudian aku di rujuk di UGD rumah sakit terdekat. Tapi rasa sakit itu membuatku terus berteriak, memohon pada semua yang tengah memperhatikanku untuk sedikit memberikan pertolongan agar rasa sakitku berkurang, tapi mungkin, para suster atau dokter dirumah sakit itu sudah terlampau biasa mendengar teriakan kesakitan dari pasiennya.

“Allahuakbar” aku terus berteriak menyebut asma Nya, tak ada lagi yang lain kecuali beristighfar memohon ampunan Nya jika rasa sakit ini adalah teguran Nya. 

“Tolong bius saya suster” ibaku pada suster yang tengah bertanya-tanya padaku

“Kami tidak bisa sembarangan mengambil tindakan, ini adalah proses alami, jika ingin menjadi ibu kita harus kuat, teruslah beristighfar, tahan rasa sakit itu” jawab sang suster

Dan aku mulai terdiam, suster benar, seorang ibu yang kukenal adalah orang-orang yang kuat, orang –orang yang rela syahid demi anak-anaknya. Orang yang akan menyembunyikan air mata dan rasa sakitnya di depan anak-anaknya. Dan aku tak lagi menjerit minta tolong pada siapapun, kutahan rasa sakit yang terus melilit perutku hingga aku di pindahkan dari ruang UGD ke ruang kebidanan. 

Rasa sakit itu reda dengan sendirinya ketika janin yang berusia empat minggu di rahimku telah meninggalkanku. Entah kenapa aku hanya tersenyum, bersyukur telah melewati rasa sakit yang terhebat kurasakan. Aku serasa tak menyadari bahwa aku telah kehilangan hal termanis yang kudapatkan dari penantian kami selama lima bulan.

Sebagai hamba Allah yang berfikir aku hanya berusaha menggali hikmah yang sebenarnya dari Menunggu, Mendapatkan dan Kehilangan.

“Ya Robbi habli minasholihin (Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh)”

“Fabasyar naahu bighulaamin halim (Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar)”

Al Qur’an Ash Shaaffat : 100 & 101


Batam, 2 Februari 2011
Tini

 

Wednesday, 22 September 2010

Masih

by. Tini

Masih tentang rindu aku ingin bercerita
Dipucuk hari yang bernama senja

Pernah aku bernyanyi
"Ku mencintaimu, lebih dari apapun"
Kemudian ku memohon ampun pada Rabb'ku
Tersadar hakikat cinta yang diajarkan Nya

Masih tentang rindu aku ingin berbagi
Di bawah cahaya yang bernama rembulan

Wujud rasa cinta itu adalah takut kehilanganmu
Perjuanganku mewalan sejuta galau
Persis seperti kedua sayap burung garuda membelah mega
Terbang tuk menemui ruang bernama keikhlasan

Masih tentang rasa aku ingin mengungkapkan
Uhibbukafillah
Aku mencintaimu karena Allah
I love you because of Allah

Sunday, 5 September 2010

Menikah Tanpa Pacaran Bukan Berarti Tanpa Cinta

Wah judulnya... tak disangka tini bisa menulisnya he he _^_

Anda pernah membaca sebuah tulisan singkat di sini

Tulisan itu saya buat sebelum datang sebuah pengubah idealisme saya sebulan kemudian, Allah Sang Penggerak hati, mengilhamkan dan membulatkan tekad saya untuk bertaaruf pada seorang ikhwan yang belum pernah saya lihat, bahkan belum pernah saya dengar sepak terjangnya dalam dunia kependekaran, ups maksud saya dalam dunia dakwah.

"Kamu tipikal wanita nekad," begitu komentar sedap yang mampir ketelinga. Seperti dapat memahami keraguan kebanyakan wanita, bagaimana mungkin memutuskan untuk menghabiskan sisa hidup dengan laki-laki yang belum dikenal lama. Namun saya berfikir, hidup saya sudah berjalan 24 tahun dan setiap keputusan yang saya ambil demi kemaslahatan hidup ini adalah "nekad", tapi bagi saya itu adalah tekad yang bersandar kepada Allah, rasa percaya penuh dan prasangka baik pada setiap garis takdirNya.

Dan siapapun boleh tidak percaya, bahwa masa berkenalan hingga pernikahan kami adalah dalam tempo 4 bulan. Karena ketidakpercayaan itu juga kami rasakan, bahkan pasca pernikahan kami, saya dan suami sering bilang "seperti mimpi." Sejujurnya dua-tiga hari menjelang pernikahan, saya dilanda rasa yang bercampur aduk -bahagia, haru, harap, takut-. Tapi saya sadar, sesadar-sadarnya bahwa pernikahan adalah bagian dari episode hidup, ibadah yang harus dilakoni oleh setiap hamba yang mengaku umat Rosulullah Sholallahu'alaihi Wasalam. Dan saya maklum, saya tidak akan mengerti bagaimana rasanya memahamkan dua kepribadian yang berbeda dalam satu kebersamaan jika saya tidak menjalani pernikahan itu sendiri.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar Rum : 21)

Sebuah cinta terlahir dari komitmen, halalnya sebuah hubungan memperindah cinta itu. Jikalau menafakuri ayat Nya, maka terpecik sadar bahwa hanya Allah lah yang menjadikan rasa kasih dan sayang antara seorang suami kepada isterinya. Seorang bijak pernah berkata "jika engkau menikahi seseorang, maka nikahilah kekurangannya, karena kelebihannya adalah hadiah yang diberikan Allah kepadamu"

Ada rasa tersendiri yang dirasakan seorang istri ketika suami pulang berjamaah dari masjid lalu mencium keningnya dan bertanya "sudah sholat?", dan  ada sebuah rasa syahdu menjadi makmum sang suami dalam sholat-sholat sunahnya.

Subhanallah....

And the last, I just wanna say "I'm lucky marry this man and I love him so much".

Batam, 6 September 2010
Tini

Tuesday, 20 July 2010

Friday, 21 May 2010

Waspada atau Buruk Sangka

Azan Magrib sudah berlalu setengah jam-an yang lalu. Kabut kelam mulai membungkus hari pada 21 May 2010 ketika kami melangkahkan kaki meninggalkan Rumah Sakit Budi Kemulyaan (RSBK) selepas menjenguk Mbak Lis tercinta. Status kami yang belum bersuami (bukan promosi ya :p ) memaksa kami untuk memutuskan bahwa biarlah kami sendiri saja menempuh perjalanan jauh menjangkau tempat berteduh alias pulang ke rumah.

“Simpang jam?” Tawarku pada pemilik taksi berplat resmi dibalas dengan tawaran harga yang mungkin lebih tinggi dari biasanya, dan kami menyetujuinya.

Tak kusangka di tengah perjalanan menuju Simpang Jam, kedua sahabat baikku yang Chinese ini justru membuatku bingung atau lebih tepatnya takut dengan penjelasan mereka bahwa mendapatkan taksi ke arah Sekupang bukanlah hal mudah. Pernyataan ini bukanlah tanpa sebab, telah berulang kali mereka merasakannya ketika hendak ke kantor pada hari libur.

Lili telah berpamitan lebih dulu sebelum taksi yang membawa kami sampai di Simpang Jam, karena rumahnya berada di bilangan Baloi. Tinggal aku dan Juju yang memiliki arah rumah yang juga berbeda, tapi yang jelas Simpang Jam adalah titik yang memisahkanku dengannya. Ia tinggal di Batam Centre dan aku di Sekupang.

Tawaranya untuk menemaniku hingga mendapatkan taksi kusambut dengan gembira. Dan tak berselang lama ketika akhirnya aku mendapatkan taksi yang sudi mengantarkanku pulang ke rumah. Mungkin sebab kalimat bahwa mendapatkan taksi untuk ke Sekupang tidak mudah membuatku lupa bahwa memilih taksi berplat hitam alias tidak resmi sangat membahayakan untuk seorang gadis yang berpergian sendirian.

Mungkin pembaca bisa membayangkan bagaimana rasa takut yang kuderita, ketika kemudian taksi yang kutumpangi mendapatkan tiga penumpang yang kesemuanya laki-laki. Aku rasanya ingin menumpahkan kemarahan pada adik laki-lakiku satu-satunya yang menolak menjemputku, karena alasan jauh. Dan pembaca pasti juga tau bagaimana asma Allah begitu lekat diseluruh aliran darahku.

Jika aku benar-benar pendekar berjilbab putih mungkin aku tidak perlu setakut ini atau mungkin bisa bertingkah galak ketika laki-laki asing disampingku terkadang memandangku dengan pandangan yang kupersepsikan sebagai pandangan aneh.

Kejadian tragis yang menimpa mahasiswi sebuah universitas swasta tahunan lalu serasa jelas membayang dalam ingatanku. Dan benar yang kupikirkan hanyalah berburuk sangka pada ke empat laki-laki yang berada dalam satu mobil denganku.

Dan terlepas dari suasana menakutkan dengan ending aku aman, bukan melepaskanku dari kesalahan berburuk sangka meski alasannya adalah waspada. Semoga Allah mengampuniku, amin.

Teringat sebuah pesan dari Rosulullah, hendaknya seorang wanita tidak keluar rumah tanpa ditemani muhrimnya.

Lalu pelajaran berharga apa yang ingin anda sampaikan setelah membaca sedikit ceritaku di atas?

Sunday, 16 May 2010

Pendekar Berjilbab Putih Part 3

Mereka sudah menunggunya saat pendekar berjilbab putih itu tiba. Seperti biasanya, Meydia tampak cantik dibalut jilbab putih dipadu dengan jubah dan celana panjang putih abu-abu, di pinggangnya tampak mengikat erat selendang biru muda berjuntai. Pedang yang terselempang di punggungnya menggambarkan ia bukan pendekar biasa. Tangan kanannya memegang erat sebuah tongkat berukuran sepundak dari tubuhnya. Ia sengaja membawanya agar tak melukai lawan-lawannya dengan pedangnya.

“Akhirnya kau datang juga” Ujar mereka membuat Meydia tersenyum tipis.

“Seorang pendekar muslimah sepertiku pantang ingkar janji, apa mau kalian sekarang? Bertarung denganku?” Tanya Meyda langsung.

“Hahaha kau yang mengundang kami kesini bukan?”

“Ya, aku harus membuat perjanjian dengan kalian”

“Ada perjanjian? Apa sama-sama menguntungkan, hahahaha.” Mereka tertawa bahak tampak senang. Wajah-wajah jahat itu memandangi Meyda.

“Kalian harus meninggalkan dusun ini.” Ucap Meyda tenang.

“Apa? Meninggalkan dusun ini? Hahaha.” Terdengar lagi gelak tawa mereka seolah apa yang diucapkan Meydia baru saja adalah lelucon.

“Bagaimana jika kami tidak mau?” Goda mereka dengan seringai nakal

“Maka aku akan memaksa kalian” Meydia menarik kaki kirinya membentuk kuda-kuda. Semilir angin malam di terangi cahaya bulan membuat Bukit Rejosari tempat Meydia berpijak terang benderang.

“Wow, ada yang akan menghajar kita rupanya, kau ingin pertarungan seperti apa? Satu lawan satu?”

“Jangan membuang waktuku, aku bisa mengusir kalian semua sekaligus” Teriak Meydia lantang.

“Jangan sombong gadis cantik!! Hiyat…”

Laki-laki bertubuh jangkung tampak gusar dan segera menyongsong meydia dengan tangan terkepal mengandung kekuatan. Meydia yang sedari tadi sudah bersiap dalam satu kali hentakan sudah melambungkan tubuhnya untuk menghindari serangan lawan. Dalam sekejab tubuh ringannya mendarat membelakangi sang lawan yang geram mendapati serangannya menghantam angin kosong belaka.

Meydia memutar tongkatnya kebelakang untuk menangkis pedang lawannya yang sudah terhunus dan seketika pedang itu terlempar diiringi pekikan kesakitan dari pemiliknya. Melihat temannya berlutut sambil memegangi tangannya, kelima lainnya tanpa basa-basi segera menyerang juga dengan pedang yang terhunus dan tampak berkilauan terkena sinar rembulan. Meydia segera menyiapkan jurus tongkat harimau. Seketika ia garang memainkan tongkatnya, sekali-kali tubuhnya berputar keatas dan mendarat kembali dengan tongkatnya yang juga sigap melakukan serangan. Tak membutuhkan waktu lama untuk membuat musuh-musuhnya kesakitan dan harus mengakui kekalahan mereka.

Pemimpin mereka yang sedari tadi menonton meski dilanda khawatir tetap berkelebat menyerang Meydia, gadis cantik itu memiringkan tubuhnya 90 derajat sebelum kemudian menendang tubuh lawan dengan kekuatan tidak penuh namun cukup membuat sang lawan terpental beberapa tomdfhhbak.

“Pergi kalian dari sini, jangan paksa aku membunuh kalian” Gertak Meydia, dan cukup membuat mereka tertatih-tatih membawa lari tubuh mereka yang lebam.

Sepasang mata mengawasi dari balik rimbunnya pohon, berdecak kagum atas kepiawaian Meydia menghajar lawan-lawannya. Sebelum akhirnya menyaksikan Meydia telah meninggalkan tempat itu dengan ilmu meringankan tubuhnya .

Bersambung

Friday, 7 May 2010

Masihkah Rindu Itu Memilikimu

By. Tiny


Dalam seperempat purnama aku menekuri ini
Menggugah hati tuk menyadari
Detik waktu yang merambat mendekat
Tiba masa semua hanya menjadi kisah
Masa lalu

Cintaku, memuncak pada selukis senyum memesona
Kepada sepasang alis bertemu
Kepada binaran mata memandang

Dan aku akan bertanya



Ingatkah engkau duhai pemilik senyum?
Saat kita bercerita di balik kaca
Kelak kita akan merenda cinta bersama
Meneguknya untuk kekuatan jiwa
Merinduinya untuk kenangan tak terlupa

Terfikirkah duhai pemilik binaran mata?
Berpisah itu menyakiti cinta
Tapi ia menguatkan rasa dengan sabar
Tak bersua itu mengundang tangis
Namun ia memberi arti tentang indahnya memiliki

Dan aku memejamkan mata

Terbayangkanlah kelak
Saat rindumu ada bersama senyummu
Masihkah rindu itu memilikimu

Batam, 7 May 2010
If tomorrow never come, you must know that I love you and I miss you so much _^_

Monday, 3 May 2010

Rinai Hujan Di Langit Batam

By. Tini 

Hujan deras mengguyur kota menjelang petang kala itu, di bilangan kawasan industri sekupang Batam, laki-laki sangat muda itu tinggal. Tampak ia tengah berlari menembus air langit yang turun lebih lebat, memang pantang bagi seorang laki-laki menangis karena kecengengannya, tapi kini ia tak perduli, ia hanya ingin menangis untuk meluahkan sejuta gundah yang tengah ia rasakan, menumpahkan kesedihan seumpama anak termalang dari sekian anak-anak seusianya. Toh ketika tetesan air mata membasahi pipinya akan terlampau susah untuk dibedakan apakah itu air mata ataukah air hujan.

Apa sebab hatinya begitu berduka adalah ketika mimpinya tak jua menjadi nyata, rasanya mandeg satu tahun untuk meneruskan SMA adalah sudah cukup. Tapi tidak demikian faktanya, kesadaran barunya muncul bahwa kemiskinan orang tuanya adalah alasan utama kenapa ia masih harus merasakan pahitnya mengorbankan mimpi dan masa depannya.
***


Rumah tempat ia dan kedua orang tuanya bernaung di bangun di atas tanah yang memang bukan milik mereka, hidup di pinggiran lembah dan dengan di suguhi bentangan air laut di belakang rumah tempat mereka membuang berbagai macam limbah dan sampah. Taukah apa gambaran yang pas untuk keadaan mereka selain keadaan yang berkekurangan. Ia masih memiliki tiga orang adik, yang dua diantaranya harus tinggal di kampung halaman neneknya karena biaya sekolah di sana lebih terjangkau.

Dani, begitu ia biasa di panggil. Entah sejak kapan menyukai hujan. Apakah sejak ia bisa menangis tanpa takut disebut cengeng, atau sejak ia ingin marah namun tak kuasa? Kerap ia sendiri tak mampu menjawabnya. Usianya baru menginjak enam belas tahun dan sejak setahun yang lalu ia telah menjadi alumni sebuah Sekolah Menengah Pertama Negri dengan hasil yang baik. Namun hingga kini, orang tuanya belum mampu membantunya menggenapi biaya untuk mengecap manisnya bangku Sekolah Menengah Atas.
***
Dani baru saja menyelesaikan pekerjaan barunya, membantu sebuah usaha yang bergerak di bidang katering, yang juga menggaji ibunya, Dani tidak berbeda remaja kebanyakan, tapi ia lebih menjadi anak penurut dan ramah, keinginannya untuk meneruskan sekolah begitu kuat, hingga ia bersedia menerima saran orang tuanya untuk bekerja dahulu sebelum melanjutkan sekolah. Meski dari lubuk hatinya Dani iri pada anak-anak seusianya yang tidak perlu memikirkan kebutuhan sekolah, tugas mereka satu yaitu belajar. Mungkin kelak mereka akan menjadi orang-orang penting di negri ini atau akan menjadi manusia-manusia yang mampu merubah peradaban.

Kegiatan Dani lainnya adalah menjadi muadzin di Mushola Subulussalam yang tak jauh dari rumahnya, meski dengan pemahaman agama yang pas-pasan. Dani bisa mengeja huruf Al Qur'an. Dani juga punya sahabat-sahabat yang sering ia ajak nongkrong di depan rumah genjrang-genjreng dengan gitar jadul mereka, menyanyikan lagu terkini dan sedang hit, sekadar pengusir lelah dan resah.

***

Genap setahun sudah Dani bekerja, meski serabutan dan tidak jelas gaji nya, tapi Dani masih sangat berharap itu bisa menjadi modal sekolahnya. Ah.. semangatnya masih sama, keinginan itu juga masih sangat sama. Dengan langkah hati-hati Dani mendekati sang ayah mencoba meluluhkan hati beliau dengan keinginannya.

"Ayah, tahun ini Dani sekolah ya, umur Dani sudah enam belas tahun " ujarnya sambil memainkan ujung sarung sebagai selimut tidurnya.

Sesaat hanya helaan nafas sang ayah yang terdengar. Menambah jantung Dani berdebar-debar, baginya ini keputusan akhir. karena jika tidak sekarang kelak usianya sudah tujuh belas tahun dan sangat tipis harapannya bisa terwujud.

"Tidak ada biaya" Begitu akhirnya jawaban singkat dari sang ayah. Dani tidak berkomentar lebih, ia memejamkan mata, menahan sesak di dadanya, dia benar-benar ingin menangis tapi cuaca sedang tak bersahabat dengan air matanya, kekuatan hatinya mencoba menahan ledakan pilu yang begitu membuatnya sedih.

Dan dua tahun itu berlalu, kini Ia harus menuruti kemauan orang tuanya, bekerja dan bekerja, karena memang tak ada pilihan lain , sebuah galangan kapal yang berlokasi di Tanjung Uncang , bersedia menerimanya menjadi karyawan, menggajinya setiap bulan, usianya telah menginjak 17 tahun dan baginya kini semua impiannya sudah berlalu.
***

Belum genap empat bulan ketika kecelakaan kerja itu merenggut nyawanya, usianya dengan wajah yang bagi semua orang teramat muda tidak menghalangi maut menjemputnya. Dani menghembuskan nafas terakhirnya dengan menahan rasa sakit di kepalanya ketika ia terjatuh dari ketinggian pada saat menyelesaikan pekerjaannya, Rinai hujan di langit batam dan tangisan mengiringi kepergianya, menyesali kenapa begitu cepat ia pergi, berandai-andai ini dan itu.

Tiada hidup yang abadi, Ia yang datang, akan pergi. Seorang penguasa, pengemis atau pertapa - setiap orang yang lahir pasti mati. Menghembuskan nafas terakhir di atas tahta, atau diseret ke dalam kubur dengan kaki dan tangan terikat, apa bedanya?
***

Selamat Hari Pendidikan

Cerpen lama setelah diedit, untuk almarhum sahabat atau adik, semoga Allah menerima amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu, amin.

Sunday, 25 April 2010

Pendekar Berjilbab Putih Part 2

Episode lalu: Yasa di bawa kabur oleh sekelebat bayangan saat hendak menyerang Meyda yang tidak sempat mengetahui siapa gerangan yang ia taksir memiliki ilmu meringankan tubuh mengagumkan itu.

“Aisyah RadhiAllahuanha, adalah ummul mukminin yang dekat dengan ilmu, kepiawaiannya dalam menafsirkan Al Qur’an dan meriwayatkan hadist Rosulullah Shalallahualaihi wasalam, tak pernah diragukan oleh para sahabat dan khalifah” Meyda menghentikan kalimatnya, ia tatap wajah antusias para murid kecilnya dengan senyum.

Seorang gadis kecil mengangkat tangan “Apa Aisyah cantik seperti Ibunda guru?”

Meydia tersipu, dengan senyum ia menganggukan kepala “Aisyah adalah istri kecintaan Rosulullah, ia sangat cantik, lebih cantik daripada ibunda guru sayang…”

“Apa Aisyah bisa berperang Ibunda guru?”

“Tidak, tapi Aisyah dengan ilmu yang ia miliki telah mengobarkan semangat kaum mujahid untuk berperang ”

“Karena itu kita harus belajar ibunda guru?”

“Tentu saja, bagus sekali, kalian pintar dan sudah paham” Meyda tersenyum puas .

Para murid kecilnya tertawa senang, dan mulai mengemasi peralatan belajar tanpa diminta setelah mata pelajaran usai, dan setelah membaca do’a penutup, mereka berlarian untuk berebut mencium tangan Meyda.

Sebuah tawa keras mengagetkan mereka, membuat para murid kecilnya beringsut mengkerut di balik tubuh Meyda yang segera berdiri tegap , waspada.

Segerombolan manusia berjumlah tujuh orang yang berpakaian serabutan mendekat, dilihat dari penampilannya mereka adalah penjahat dan ini dibenarkan oleh seorang gadis kecil yang membisikan kalimat pelan kearah telinga Meyda yang segera membungkukkan badan “mereka itu yang suka memukuli para penjual di pasar ibunda guru” Meyda mengangguk paham.

“Apa kepentingan kisanak semua datang ke tempat kami ini dengan mengindahkan etika bertamu dengan baik” Meyda membuka suara

“Hahaha, tidak usah berbelit-belit gadis cantik, siapa yang mengijinkanmu mengajar anak-anak dusun ini tanpa sepengetahuan kami hah!”

“Siapa kalian dan apa urusan kalian”

“Hahahahaha” suara tawa membahana memenuhi ruang tak begitu besar, berdiding papan dan beratap rumbai itu.

“Kami adalah penjaga di dusun ini, siapapun orang baru yang membuat kegiatan di sini harus membayar pajak kepada kami”

“Pajak? Kepala dusun tidak pernah menyinggung tentang pajak”

Lagi-lagi terdengar suara ejekan dengan kerasnya tawa, murid-murid Meyda ketakutan saling merapat satu dengan lainnya. Meyda harus cepat membuat keputusan

“Saya tidak akan membayar pajak” ujarnya

“Hahahahaha, jangan nekad gadis cantik, wajah cantikmu itu akan berubah menjadi monster kalau kau melawan”

“SAYA TUNGGU KALIAN DI BUKIT REJOSARI UNTUK MENYELESAIKAN INI” tulisnya di atas sebuah kertas, menghindari anak-anak kecil mendengarnya.

“Dengar, jika kalian merasa malu mengeroyoku di depan anak kecil, turuti ini”para penjahat itu langsung berembuk. Sesorang membisikan sesuatu kepada pemimpinnya yang di sambut tawa sumringah, ada cahaya mesum yang terpancar dari pandangan matanya.

Meydia bisa menangkap itu, “lelaki biadap” bisik hatinya, ia biarkan mereka pergi dengan tawa mereka. Dan setelah mereka menjauh Meyda segera menenangkan para murid kecilnya , menghapus air mata gadis kecil yang sempat menangis .

“Dengar Andini sayang, tidak ada yang perlu di takutkan dari manusia seperti mereka, wanita harus kuat seperti Khansa”

“Siapa Khansa ibunda guru”

“Besok ibunda guru ceritakan” Andini mengangguk dan mengusap air matanya

“Baiklah , ibunda guru antar kalian pulang” dan dalam sekejab suasana sepi menyergap ruangan itu.
***

Yasa mengerjapkan matanya, ia baru tersadar setelah semalaman tertidur, pandangannya menyusuri ruangan tempat ia tergeletak, ia baru ingat semalam gurunya yang membawanya dirumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya hingga ia tumbuh dewasa ini, dipojok, didekat jendela sana tersedia singkong rebus dan kopi yang masih mengepulkan asap tanda baru saja di hidangkan, tapi ia masih tak menemukan sang guru.

Segera ia mengangkat tubuhnya untuk beranjak, rasa sakit di perutnya sudah benar-benar sirna, ia ingat kekalahannya atas Meydia , “memalukan” bisik hatinya. Dan matanya telah menangkap sosok sang guru yang tengah duduk bersila di atas batu dengan tangan menangkup di dada layaknya semedi kala ia telah berdiri di pintu. Deburan ombak laut tempat gurunya menghadap seringkali di tingkahi oleh semilir angin memecah kesenyuian namun tetap menciptakan suasana tenang.

“Kau sudah bangun” ujar sang guru masih memejamkan mata saat ia mendekat. Ia tau gurunya punya indra keenam yang bisa merasakan kehadiran orang lain tanpa harus melihat langsung.

“Iya guru, terimakasih sudah menyembuhkan rasa sakit ini, tapi kenapa guru membawa saya kabur dari sana? Bukankah itu sangat memalukan” guru tersenyum sinis, masih dengan mata tertutup

“Seorang pendekar juga tidak boleh mati konyol bukan, kau masih memiliki banyak tugas yang harus di selesaikan”

“Tapi guru, pendekar wanita itu…”

“Kau hanya butuh berlatih lebih keras lagi, jangan malas!!! Seorang pemalas hanya akan mendapati ilmunya setengah-setengah, paham?”

“Baik guru, tapi … apa benar para warga dusun itu tidak sepenuhnya bersalah guru?”

“Jangan percayai musuh, kau bisa melihat sendiri kejahatan mereka dulu, apa kau percaya begitu saja?

Kita akan membuat taktik melawan pendekar wanita itu, dia membahayakan misimu”
Yasa terpekur, kesedihannya mengingat tragedi belasan tahun lalu menerbitkan dendam membara dihatinya.
***

bersambung...

Friday, 23 April 2010

Tiba-tiba , Lagi-Lagi

Tiba-tiba menjadi penakut
Melihat kekurangan diri tak disuka manusia lainnya
Seberapa diri menghibur dengan kesabaran
Seberapa ketakutan membuat tak berdaya

Tiba-tiba menjadi pengecut
Melihat kobaran api melalap tempat berpijak
Seberapa diri menyadarkan hanya buaian
Seberapa kepengecutan merenggut keberanian

Tiba-tiba ingin menangis
Menyadari lagi-lagi merasa begini
Merindukan Tuhan tapi tak menemukan cahaya
Tak menangkap jalan menuju Nya

Thursday, 25 March 2010

Bumbu Cinta Masakan Umi

By. Tini

Cerpen ini di ilhami oleh ungkapan seseorang yang saya hormati , Ibu dari adik-adik saya Rani, Mutya, dan Raihan. Di dedikasikan untuk ibu yang telah melahirkan saya dan untuk seluruh Ibu di dunia yang memberikan bumbu cinta pada setiap masakan untuk keluarga tercinta

"Umi , umi hali ini macak apa"
Itu yang sering ku dengar dari bibir mungil adik bungsuku adalah adikku satu-satunya, yang ibarat berjalan gaya bicaranya masih tertatih-tatih.. Dan seperti biasa umi akan menunjukan sebuah gambar yang melekat pada majalah resep masakan kesukaan beliau

"Ayam goreeeng" begitu sorak umi kami sambil tertawa
"Hoyeeee, ayam goyeng" dan sibungsupun ikut tertawa memeluk umi penuh kasih, yang kutau memang itulah makanan kesukaannya, meski ia selalu bersemangat terhadap semua masakan umi. Dan setelah itu mereka akan bercanda sambil menyiapkan menu, sedangkan aku masih tak berniat beranjak, tugasku adalah belajar, belajar dan belajar , tapi tidak untuk belajar memasak.
***


"Umi, hari ini Abi pulang, kita masak apa ya?" begitu tanya adik bungsuku kala ia sudah duduk di kelas enam dan aku kelas sembilan.
"Hmmm" Dahi Umi mengkerut , seolah berfikir keras , padahal aku tau pasti Umi sudah punya rencana memasak apa, beliau hanya sedang ingin membuat adikku memberikan ide, ya hanya ide adikku untuk yang satu ini, karena sudah pasti aku tak memiliki ide apapun. Menyambut kepulangan Abi dari Tanjung Pinang setelah menyelesaikan pekerjaannya mencari nafkah , menjadi moment yang berharga untuk masakan mereka.
"Ah Umi... Abi khan suka pelas udang kukus buatan Umi, kita masak itu saja" rengeknya, dan akhirnya tawa itu sempurna, tapi tidak untuk tawaku, hanya senyum tipis melihat indahnya hubungan ibu-anak ini. Tapi tak lama tawaku juga akan terlepas ketika Umi bertanya tentang sekolahku, tentang pelajaran yang kusukai , tentang prestasiku menulis hingga mendapat nilai berapa dalam pelajaran seni dan sastra, karena disanalah bakatku berada, setidaknya begitu yang sering kudengar dari kebanyakan sahabatku, termasuk Umi.
***

Berkali-kali kulihat umi mengusap peluh yang merembes di keningnya, ketika beliau memasak untuk makan malam kami, ada yang kurang beres kulihat , umi sedang kurang baik kesehatannya.
"Umi sakit?" aku mendekat memegang pundaknya , merasakan umi tengah menggigil
"Astaghfirullah, sudah Umi, Umi harus istirahat"
"tidak apa, umi harus menyelesaikan ini"
"Tidak umi, biar Handa saja" begitu janjiku untuk menghentikan kegiatannya, dan aku tau kenapa umi memberikan tatapan ragu terhadapku, andai adikku tak memiiliki kegiatan ektrakulikuler di kelas tujuhnya sore ini, aku tak harus berjanji menyelesaikan kegiatan masak-memasak ini.
Dan benar saja, masakanku hampir tak tersentuh di meja makan, padahal berkali-kali ku intip penampilannya tak jauh beda dengan masakan umi biasanya , sup ayam dan udang masak kecap yang berwarna cokelat karena memang begitu warna kecapnya, ya aku akui ketika menghidangkannya aku tak menghirup aroma sedap seperti masakan Umi, tapi apa salahnya mereka mencicip sedikit saja dengan rasa senang, meski aku sendiri sangsi tentang rasanya.

"Kami menghawatirkan kesehatan Umi" begitu aku berpositive thinking, saat kulihat Abi dan adikku ogah-ogahan makan.
***

"Tau kenapa masakan Umi enak?" Umi berkata pada adikku
"Kenapa Umi?"
"Karena Umi meracik bumbunya dengan bumbu cinta" jawab Umi tersenyum
"Bumbu cinta?"
"Ya, karena memiliki kalian adalah anugerah untuk Umi, adalah amanah Allah yang harus Umi jaga sebaik-baiknya, kalian berdua anak-anak Umi yang kelak akan membangun peradapan dunia menjadi lebih baik, dan menjadi tanggung jawab Umi untuk menjaga kesehatan kalian dengan makanan sehat dan tentu lezat, setiap masakan Umi adalah di penuhi dengan cinta , ikhlas dan penuh pengharapan semoga yang halal ini akan menambah ghirahkalian dalam menjalankan perintah Allah, itu sebabnya kenapa Umi tak perduli harus memasak berapa kali setiap kalian dan Abi kalian lapar" Umi tertawa tanpa suara , hanya baris giginya yang rapi dan wajah cerah kami dapati.
"Kalian tau cerita tentang ketabahan Siti Fatimah, putri kecintaan Rosulullah Sholallahu'alaihi wasalam" lanjutnya
Kami diam, namun penuh ekspresi ingin tau.
"Beliau adalah sosok teladan bagi kaum muslimah yang tak pernah mengeluh , untuk menyediakan makanan bagi suami dan anak-anaknya , beliau harus rela menggiling padi hingga berpeluh-peluh dan tangan lecet, tapi masih dengan cinta beliau melakukannya , adalah janji Allah bahwa setiap ibu yang menyediakan makanan untuk suami dan anaknya dengan keikhlasan, maka dosanya akan di ampuni sebanyak buliran gandum/beras yang ia sediakan" Umi tersenyum
Dan adikku langsung memeluk Umi, Ia tersedu-sedu sambil terus berterima-kasih dan memuji bahwa masakan Umi tiada duanya, sedang aku hanya menunduk , menyembunyikan mata berkaca tapi tak pernah mengungkapkan bahwa masakan Umi memang yang terlezat yang pernah kurasa, "ah bumbu cinta, indahnya kalimat Umiku ini".
***

Adikku tersenyum manis di panggung tempat ia duduk menghadap para audiens yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga termasuk aku, sekali-kali ia menatapku masih dengan senyum manisnya, ia di undang sebagai pembicara dalam acara bedah buku "Masakan Ibu" yang merupakan kumpulan dari resep-resep yang sering ia tampilkan di sebuah televisi swasta yang kini telah melambungkan namanya sebagai koki terbaik.

"bagaimana anda bisa belajar begitu banyak masakan dan semuanya menjadi masakan lezat?" seorang bertanya sambil berdiri

"saya selalu belajar dari Umi" begitu adikku menjawabnya

"Beliau bukan koki terkenal , tapi koki terbaik yang saya kenal, sejauh ini belum ada yang bisa menandingi kelezatan masakan beliau di lidah saya, suatu hari Umi pernah berkata bahwa kenapa masakan beliau enak adalah karena setiap bumbu yang beliau racik selalu di taburi dengan rasa cinta dan keikhlasan , dan itulah resep yang selalu saya tuangkan dalam setiap masakan saya, hanya saja saya tidak pernah menuliskannya di buku ini " audiens tertawa

Tapi aku menangis, karena dulu semasa Umi menyediakan masakan untuk kami , meski aku mengakui apa yang di katakan adikku benar adanya aku tak pernah sekalipun memujinya, aku tak hebat berkomentar soal rasa masakan, namun kini berkali-kali aku ingin melakukannya sejak aku tak lagi bisa merasakannya karena beliau telah berpulang. Aku ingin berkata "bumbu cinta masakan Umi tak terkalahkan , bahkan oleh adikku sekalipun."
***

Batam 24 Maret 2010

Monday, 22 March 2010

Untuk Malaikat Kecil



By. Tini

Tak perlu
Tak perlu kau tanyakan padaku lagi kenapa rindu ini membuncah saat tak kulihat kedipan matamu
Tak perlu sayang
Tak perlu kau sangsikan betapa cinta yang kumiliki untukmu tak pernah bisa di ukur dengan satuan besaran apapun…

Ahai
Lihat tawamu itu, menampakan barisan gigi yang baru saja tumbuh dua-dua
“ba-ba be-be” dengar celotehmu mengalahkan nyanyian merdu penyanyi kesukaanku
Dan “puk” tangan kecilmupun mampir kepipiku , saat ku endus hidungmu dengan ungkapan sayangku
Aku tertawa, meski terkadang pukulanmu menumbuhkan sedikit rasa sakit di kulit ini

Dan aku juga ingin menangis, Melihat matamu dan mata umimu berkaca juga teriakanmu
Saat umimu melepaskan pelukannya , Demi nafkah dan masa depanmu
Seakan kami dengar engkau berteriak “umiiii ikuuuuuuuuuuut”

Lihat sayang
Sepanjang jalan umimu bersedih , ia ingin dekat denganmu
Selalu, sepanjang hari , sepanjang detik

Untuk malaikat kecil
Dan di miladmu yang pertama
Semoga Allah karuniakan kesehatan padamu, semoga Allah sebaik-baik penjaga memeliharamu
Mencintaimu
Mendidikmu
Melindungimu
Mengasihimu
Memberikan segala terbaik untukmu

Amah Tini love Alif



“ucapan selamat ulang tahun untuk Alif yang sudah terlewati 12 Maret , dan Umi Alif yang menjelang 27 Maret, Amah sayang kalian”

Friday, 19 March 2010

Pendekar Berjilbab Putih



Pernah suka cerita tentang pendekar ga? aku dulu sampai sekarang suka banget, suka baca tentang pendekar 212, trus liat Angling Dharma versi dulu...

Dan udah lama banget melupakan itu, tapi kemaren sempet baca cerita tentang Khaulah binti Azwar yang ikut berperang membela para muslimin dan berada di barisan para muslimah lainnya, kemudian dengan besarnya cinta yang ia miliki pada Dhirar bin Azwar sang kakak saat di tawan musuh , ia telah menjadi Ksatria Bercadar Hitam dan mampu memporak-porandakan barisan musuh, membakar semangat kaum muslimin untuk menang.

Dan gara-gara itu tiba-tiba pengen menulis kisah fiktif tentang Pendekar Berjilbab Putih , hehe


Sesosok bayangan berkelebat , hinggap diam dalam sebuah ranting pohon yang harusnya patah menahan tubuhnya, tapi tidak .. mungkin bayangan itu menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.

“wanita itu akan menyesal telah mencampuri urusanku” geramnya

Kemudian tangannya terbentang , wajahnya lurus menghadap langit , ia berkonsentrasi terhadap dua telapak tangannya yang menghasilkan bias cahaya memerah , dan dengan tenaga dalamnya ia hendak menyabetkan seluruh cahaya itu ke bangunan yang ia awasi sedari tadi.

Tapi gerakannya tertahan oleh sebuah suara yang mangagetkannya

“aku tau kau akan melampiaskan kekesalanmu pada gedung tempatku mengajar anak-anak di dusun ini Yasa, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi”

Suara tenang yang merambat melalui udara dengan tenang sampai ke telinga pria yang di panggil Yasa , bernama lengkap Gayasa Ganda Pramudia. Namun justru tak menghasilkan suara tenang di bilik hatinya kecuali amarah yang membara.

Gadis berpakaian putih abu-abu lengkap dengan kerudung pembungkus auratnya itu berdiri tegap, sebilah pedang terselempang di balik punggungnya.

“jangan memancing amarahku hingga memaksaku melukai tubuhmu Meyda, kita di sini punya urusan masing-masing , jangan campuri urusanku”

“aku tidak akan mencampuri urusanmu jika kau tidak melukai warga dusun ini sesukamu, kalo kau tidak membuat mereka resah dengan sepak terjangmu” gadis yang bernama Meyda Khairandani berujar dengan menaikan suaranya satu tingkat.

“mereka harus membayar apa yang telah mereka lakukan pada keluargaku, kau tau rasanya melihat kedua orang tuamu di bunuh secara mengerikan di depan matamu dengan tuduhan kesalahan yang tidak pernah mereka perbuat?” suara Yasa bergetar menahan marah

“itu bukan kesalahan mereka sepenuhnya, dan kau tidak berhak membuat anak-anak mereka mengalami nasib serupa”

“tau apa kau tentang kesalahan mereka”

“lebih tau darimu yang hanya di pengaruhi oleh otak dendam dan keegoisan”

“kau!!!” Yasa melotot , kemarahannya sudah tak terbendung, dalam sekali lompatan ia telah berdiri sejajar di hadapan Meyda berjarak beberapa tombak.
Meyda masih berdiri tenang , namun kakinya telah membentuk kuda-kuda tak kentara.

“ruhmu akan menyesali tindakan bodohmu, hiyaaaaaaaaaat” Yasa telah menyerang Meyda dengan kepalan tangannya di sertai tenaga dalam.

Meyda segera mundur menghindar, namun tendangan Yasa hampir menyentuh tubuhnya jika ia tak segera berguling. Dengan secepat kilat ia berdiri , menyusun kekuatan dengan segera, ia tak berniat melukai Yasa , kecuali membuat Yasa berfikir ulang tentang tindakannya, tapi serangan demi serangan yang di luncurkan yasa membuatnya terpaksa harus melumpuhkan pertahanan lawannya yang tidak main-main itu.

“ayo lawan Meyda , jangan hanya menghindar”

“aku tidak ingin bertarung denganmu Yasa, tapi jika kau paksa , maka maaf ..” dengan sekali gebrakan Meyda telah meluncurkan serangan kepada Yasa yang kaget dan tak sempat mengelak jauh , Yasa terpental kebelakang menahan sakit di perutnya karena tendangan Meyda.

“pergilah Yasa , tinggalkan dusun ini dan belajarlah memaafkan mereka, cari tau kenapa para warga melakukan tindakan pembunuhan itu dulu.

“aku tidak akan menyerah” Yasa hendak bangkit melawan lagi saat sekelebat bayangan hitam menangkap sosoknya dan membawa kabur.

Meyda , pendekar berjilbab putih kaget , dan tak bisa lagi mengejar bayangan yang membawa tubuh Yasa pergi.

Bersambung…


Tuesday, 9 March 2010

Memilih

Seorang sahabat berkata “aku ingin menikah dengan orang yang tidak ku kenal, aku akan mencintai orang yang ku nikahi” lho gimana toh , menikah kok dengan orang yang tidak di kenal, he he bukan gitu maksudnya, anda tau lah maksudnya gimana :p

hmm tak ada yang salah, karena itu pilihan , setiap apa yang kita lakoni sejatinya adalah hasil dari pilihan kita , seperti aku yang sebelumnya tidak bisa masak, itu akibat dari pilihanku untuk tidak mau tau urusan dapur , dan akhirnya pilihan itu kurubah menjadi aku harus tau dan harus bisa!! Dan well tidak terlalu sulit yang di bayangkan ternyata…

Ups!! Jadi kemana neh ceritanya

Kembali ke kalimat sahabatku , saat ia bicara begitu, kebiasaanku adalah menjawabnya seperti yang ku fikirkan “kalau aku ingin menikah dengan sahabatku, atau minimal aku mengenalnya lebih dulu seperti ia juga mengenalku dengan baik, terlepas dari kepasrahan kepada Allah tentang siapa jodohku, tapi aku selalu berprasangka baik kepada Allah , bukankah Allah selalu memberikan yang terbaik??”

Tapi bolehkah aku sedikit atau mungkin banyak berkomentar tentang kalimat sahabatku itu? Ketika kita mencintai orang yang kita nikahi , ku fikir itu satu-satunya pilihan yang harus di pilih, rasanya tidak mungkin setelah menikahi seorang wanita ia tak berusaha mencintainya, lha wong itu pilihanmu.. he he

Dan aku, mungkin terlalu takut sepertimu sahabatku, menikah adalah menerima kelebihan pasangan dan melengkapi kekurangannya , begitu khan? Setidaknya bagiku sebuah ketertarikan itu penting, sebuah kekaguman juga tak kalah penting, karena itu adalah sebab musabab yang menggiring kita pada jalan-jalan bernuansa indah yaitu “cinta”.

Dan perlu kerja keras untuk membingkai cinta itu dalam ikatan halal bernama pernikahan.

Please comment about my choice…

Thursday, 25 February 2010

Titip Rindu

by. Tini

Dedicated for AMGUN

di bawah batu nisan kini kau tlah sandarkan
kasih sayang kamu begitu dalam
sungguh ku tak sanggup ini terjadi

karna ku sangat cinta
ini lah saat terakhirku melihat kamu
jatuh air mataku menangis pilu
hanya mampu ucapkan selamat jalan kasih
….
Dan wajahnya yang terbingkai di foto ini telah menjadi kenanganku , senyumnya yang telah mengajarkan aku kekuatan menghadapi cobaan ini, telah menjadi masa laluku.

“leukemia akut” begitu vonis dokter atas sakitnya sebulan terakhir yang di bilang terlambat untuk di periksakan. Ketika kami terutama aku yang lalai untuk memperhatikan gejala-gejala dini. Saat akhirnya batuk yang tak kunjung sembuh selama sebulan itu memaksaku untuk lebih care tentang apa yang terjadi padanya.

“kita harus kerumah sakit”
“sudahlah , tidak apa-apa” elaknya
“tidak apa-apa? Batuk itu menyiksamu selama sebulan, kita harus periksakan itu” tentu saja sikapnya yang menganggap remeh apa yang di deritanya membuatku sedikit emosi.

Keterbatasan hubunganku dengannya, mungkin menjadi salah satu sebab, masih banyak ketidak pedulian yang aku tunjukan padanya.
Masih belum ada ijab Kabul yang mengikatku untuk bertanggung jawab atas dirinya sebagai suaminya, meski rencana menikah itu telah dekat. Tapi tetap saja belum halal bagiku untuk sekedar menggandeng tangannya.

“saya harap anda mensikapi penyakit ini dengan serius, saya harus merujuk nya untuk berobat kerumah sakit yang lebih baik, maaf.. bukan membuat anda pesimis, tapi harapan sembuh leukemia akut sangat kecil”

Apalagi yang membuatku tak berdaya, ketika kupandang gadis yang kucintai sedang tergolek lemah di sana dan telah di vonis dokter memiliki harapan tipis untuk bisa bertahan hidup.
***

Sebagai hamba beriman , aku masih memiliki Allah untuk memberikan banyak keajaiban , meski sedikit mengalahkan semua kesedihan yang terus mendera , apalagi ketika ku search di internet , dan di nyatakan bahwa leukemia akut adalah penyakit yang membunuh bahkan dalam hitungan hari, ini memang sering terjadi pada orang dewasa,

Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini dalam tubuh manusia memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah putih (berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah).
Leukemia mielositik akut (LMA). Ini lebih sering terjadi pada dewasa daripada anak-anak. Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik akut.

“dan bantulah ia untuk menyempurnakan diennya, itu akan lebih memberikan semangat hidupnya kembali” sebuah nasihat itu seolah membuka sebuah jalan panjang yang tak terfikirkan sama sekali, di tengah kondisinya yang rumit untuk di jelaskan, aku mencintainya dan ingin menjadikannya ibu bagi anak-anakku, hanya saja kemarin waktu belum mengijinkanku untuk itu, tapi apa harus sekarang? Vonis dokter bahwa hidupnya tak lama itukah alasannya ? aku ingin menunggu keadaannya membaik, lalu bagaimana jika itu benar?jika ia tak segera membaik atau Jika kemudian setelah menikah ia akan di jemput kembali oleh pemilik Nya? Bagaimana jika kami telah memiliki anak nanti?

Panjang, sangat panjang yang kufikirkan , tapi benar cinta dan senyumnya membuatku harus memutuskan hal besar ini secepatnya, ada banyak hal yang belum bisa ku lakukan untuknya , dan Allah memberikan kesempatan ini, tak boleh di sia-siakan.
***

Setelah kepindahannya di rumah sakit yang di rujuk dokter pertama, aku mengutarakan niatku pada orang tuanya, tak banyak yang di katakan mereka kecuali sepenuhnya setuju.

Demi Mu ya Allah , dan demi cintaku pada gadis ini, aku kuat menjalankan ini, aku ingin memberikan pelukan hangat padanya , menguatkannya bahwa ada banyak kebahagiaan yang tengah menunggu kesembuhannya, ada banyak kisah yang menjadi mimpi kami sebelumnya yang harus segera di wujudkan.

Dan setelah ijab Kabul yang di laksanakan di rumah sakit dengan sangat sederhana, bermahar seperangkat alat sholat , aku telah sah menjadi suaminya, bertanggung jawab penuh atas keputusan-keputusan yang harus di ambil untuk kesembuhannya, termasuk tindakan penyembuhan yang akan di lakukan dokter di malam pertama kami
.
Ia tersenyum memandangku
“terimakasih, tapi harusnya abang tidak perlu melakukan ini”
“sudahlah de, ini sudah kita bicarakan sebelumnya, ade udah jadi istri abang sekarang, ade bahagia khan?”
Ia mengangguk dan tertawa, menyisakan batuk panjang yang membuatku miris.
Ku cium keningnya, lama… meresapkan kerinduan panjang selama ini,

Allahumma Innii Asaluka Min Khairiha wa Khairi Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih —Wahai Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya serta Aku berlindung kepada-Mu daripada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya..amin”

Ku hapus air mata yang menggenang dan menetes melewati sisi kelopak matanya “amin, Alhamdulillah,” ujarnya, dan aku memeluknya , “Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas waktu yang Engkau berikan untuku menepati janji ini”
***

Istriku telah kembali ke pemiliknya, di malam pertama kami ia menjalani operasi dan dokter gagal membawanya kembali, “"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya lah kami kembali”
Aku menangis , tentu saja … aku mencintainya, tapi Allah lebih mencintainya , insyaAllah , semoga saja.
Dan jika aku rindu, izinkan aku titipkan rindu ini untuknya.
***

Dari sudut sini aku berdo’a
Untukmu yang hidup atas nama cinta Allah
Dan cinta pada ciptaan Nya
Semoga cinta kalian
Mempertemukan kalian di surga Nya
Tempat di letakan segala muara kebahagiaan
Dan kematian adalah pintu untuk menuju kesana
Buat bang amgun, semoga ini menjadi ladang amal dan ibadah yang bernilai tak terhingga untukmu, terima kasih telah membantu saudariku menyempurnakan agamanya

Batam 25 february 2010


Tuesday, 2 February 2010

Surat Cinta Yang Terlantar



By Tiny

Aku tau saat barisan kalimat ini merasuk dalam pandangan kedua kelopak mata indahmu, maka denyut-denyut kerinduan ini tersampaikan sudah , dan aku merasa engkau jua merasainya


Surat cinta itu masih panjang, berisi kalimat –kalimat manis yang membuai, yah meski ia tidak lagi melewati tukang pos, tidak dikirim dengan perangko atau kilat khusus, tapi tetap saja bagiku itu adalah surat cinta.

Ya, tidak kupungkiri , ketika surat yang datang dari seorang ikhwan yang kudamba di seberang samudera sana memunculkan nuansa merah jambu di kehidupanku, meresapkan keromantisan dalam relung kalbuku. Dan ia menghadirkan diri yang berbeda di diriku, penuh angan dan harapan , penuh cinta dan kerinduan.
***

Musim tak menentu di kota ini, ia kadang di hiasi dengan hujan berhari-hari , namun juga panas yang tak kalah menyengat. Dan karena itulah aku di serang demam hingga flue yang tak kunjung sembuh, hingga akhirnya kedua penyakit yang menyiksaku kala hendak terlelap karena hidung yang tersumbat dan menyesakkan nafas itu pamit pergi, namun terkadang rasa pusing ini seoalah enggan tuntas meninggalkanku.

Aku melayangkan pandanganku pada inbox email yang baru ku buka..

Hey cantik
Keresahan itu hadir ,aku memikirkan kesehatanmu, karena terakhir kudengar ia kurang baik, How now? Is it well?


Aku tersenyum, dia begitu baik, sangat mengkhawatirkanku, tentu saja aku harus membalas surat cintanya untuk mengabarkan aku baik-baik saja.
***

Ketika angin berubah arah, itu adalah hal lumrah. Ketika bulan yang berpendar di malam hari tak lagi sempurna setelah purnama , itu adalah suratan alam. Ada yang berubah, dan setiap jiwa yang di tanamkan di raga harus siap berubah sewaktu-waktu. Tapi tidak seperti lima jagoan yang berubah jadi power ranger ketika ada kericuhan yang melanda kota.

Surat cinta itu tak lagi hadir tepat waktu, padahal aku sebagai pembaca setia masih tetap menunggu,dan terlebih itu, aku telah menyandarkan harapan di sana. Namun siapa aku hingga harus bangga dan percaya diri bisa membuat hatinya memiliki ketetapan hati untuk mencintaiku, aku sudah lupa siapa yang Maha membolak-balikan hati itu?

Dan ketika purnama berikutnya , surat itu tak lagi ada , ia terakhir memenuhi inbox emailku dua minggu yang lalu , saat ku tau dia tengah sibuk dengan pekerjaannya, aku tak lagi banyak bertanya, meski aku sakit merasa tercampakan, dan aku rindu surat cinta itu.
***

Aku berusaha tersenyum , tapi mungkin yang terlihat justru erangan rasa sakit, kepalaku berdenyut keras, serasa membuat seluruh tubuhku kaku. Dokter memvonisku menderita sakit parah, aku tak perduli sakit apa itu, tapi sudah sejak lama aku bertahan dengan itu, dan hingga sekarang aku ambruk di sebuah kamar pengap ini aku masih berusaha bertahan.

Dan dengungan itu mengusikku , aku tentu sangat mengenal suara apa itu, aku sering mendengungkannya dulu, hingga aku lupa kapan terakhir aku melakukannya , terselip tanya kenapa harus di tempat ini, susah payah aku mencari dan di pojok ruangan sana aku menemukan sumber suara itu.

“sudah saatnya kah aku mati?”

Ah tidak, aku sudah melihat pasien baru yang terpisah oleh gorden putih itu sejak kemarin, tapi mungkin kali ini keadaanya lebih baik dariku sehingga ia bisa mendengungkan suara yang tak asing itu. Merasa di perhatikan ia menoleh dan tersenyum, sejenak ia hanya memandang dengan senyumnya namun kemudian ia beranjak mendekatiku, aku tak berkata kecuali terus memperhatikannya. Ada sesuatu yang tak sanggup ku jelaskan dengan logikaku sendiri.

“Assalamu’alaykum”

Meski ucapan salam itu mendapat jawaban diamku, ia masih tak ingin melepaskan senyumannya dari bibir pucatnya.

“afwan, apa surat cinta yang ku baca ini mengganggumu?”

Kali ini aku tercengang, kata-katanya sontak menumbuhkan kembali ingatan tentang luka hati yang tak kunjung sembuh.

Pandanganku menghindarinya, membuang jauh tanda tanya yang tersirat dalam raut wajahnya, dadaku terguncang menahan isak, hingga aku sendiri tak sadar lagi begitu cengengnya aku ini.

“mbak , apa ada yang sakit? Saya panggilkan dokter”

“jangan”

Aku menatapnya dengan linangan air mata.
***

“beri aku waktu untuk kembali kerumah ya Allah, ada surat cinta Mu yang ku telantarkan sejak lama di
tumpukan buku-buku kebanggaanku, aku ingin membacanya”

Jika bicara tentang terlambat untuk sadar, mungkin di sinilah aku tau rasanya, surat cinta dari Allah yang tersusun rapi dalam mushaf yang bernama Al Qur’an telah bertahun-tahun aku telantarkan.

Di kamar yang aku anggap pengap ini , aku merasa malu, betapa terlalu lama aku tak mengerti mana yang seharusnya membuat rinduku membuncah. Dan setelah ada di tempat ini aku tau “surat cinta” dari Allah itu begitu merdu.
***

Batam, 2 February 2010


Saturday, 16 January 2010

Menemukan Arti Syukur

by Tini

Hampir setiap orang yang mendengar ini dan mungkin anda juga akan berkata hal yang sama "harusnya kamu bersyukur, kecelakaan itu tidak sempat membuat motor kalian jatuh lalu melukai tubuhmu, ikhlaskan saja , itu artinya bukan rizkimu"

Ya.. mereka semua dan anda benar sekali, kusadari itu setelah aku pulang dan menangis tersedu-sedu melihat gamis tercintaku koyak tak beraturan karena tersangkut jeruji motor.Gamis yang ku beli dengan sedikit menutup mata karena harganya "high" untuk ukuran penghasilanku.Aku sempat tak ingin kerja karena kecewa, entah kepada siapa, persisnya pada diriku sendiri yang teledor dan tidak hati-hati

Tapi bukan itu yang ingin aku share kali ini, bukan ingin mengatakan bahwa aku tidak punya gamis lagi dan berharap kalian menyumbangkan yang sama untukku "ha ha, kalo ada ya syukur :p " tapi betapa setiap pelajaran syukur itu terhampar di setiap kejadian, bahkan kejadian yang membuat kita kehilangan sesuatu menuntut kita untuk bersyukur. Bersyukur bahwa masih seringnya kita di berikan kesempatan untuk instropeksi diri , bahwa segala yang kita miliki bukan milik kita sepenuhnya. Bersyukur bahwa saat kita kehilangan sesuatu , masih banyak hal yang kita miliki untuk kita syukuri.

The wise man said " Bersyukur adalah menerima dan memandang indah setiap pristiwa yang terjadi dalam perjalanan hidup kita "

Selamat Jalan Gamis Tercintaku, Semoga engkau di terima di sisi Nya , heeeeee lebay mode on.

Batam 15/01/2010

Tuesday, 12 January 2010

Ruang Itu

By Tini

Ya Allah, Please give love shines in my father's new room

Ruang itu bersekat dinding kayu sebagai pembatasnya dengan ruang tamu, berpintu namun dan tak ada engsel yang bisa mengkaitkan papan untuk menutupnya , kecuali kelambu panjang yang berjuntai, ia berjendela satu yang menghubungkan langsung dengan dunia luar yang hijau , saat hembusan angin mampu menggoyangkan dedaunan kelapa , maka kesegaran udara akan mampir untuk sekedar menjenguk di dalam sana, di ruang itu, menggantikan udara pengap yang sementara hinggap.

Dulu aku sering mendengar dengungan kalam Allah dari sana, ketika ayah melafalkan kuat-kuat bacaan sholatnya meski seharusnya ketika tidak menjadi imam dalam jamaah sholat bacaannya bisa sedikit di pelankan, juga saat beliau sedang murojaah surat-surat pendek, namun begitulah ayahku , beliau memiliki suara yang tak pernah membuatku malu menyebutnya “ini ayahku”.

Ayahku berdarah Nganjuk atau Jawa Timur, beliau sangat hafal tembang-tembang jawa dan biasa mendendangkannya , tapi aku sendiri tak pernah bisa paham benar tembang-tembang jawa itu kecuai yang memang sering ku dengar dari tape recorder butut milik beliau “umpami sliramu sekar melati, ndiko kumbang nyidam sari” he he itulah yang menemani kesehariannya sebagai seorang petani tulen, dan itulah ayahku, seorang pekerja keras namun berhati sangat lembut membuat aku tak pernah malu menyebutnya “ini ayahku”.

Dalam sejarah aku belum pernah kehilangan orang terdekatku , kehilangan dalam arti yang sebenarnya, tak khan bisa melihatnya lagi , tak khan mendengar suaranya lagi, tak khan bisa merasakan pujiannya lagi, ya… ayahku adalah orang yang paling sering memujiku , membanggakanku ketika aku bisa juara kelas. Dan dalam sejarah kehidupanku , beliau orang pertama yang pergi dan menyisakan rasa sakit saat kerinduan menyergap, saat beliau kembali menghadap Allah, kejadian itu menyadarkan kami bahwa kematian pasti datang kepada setiap hamba Allah, tak terkecuali. Tak ada yang menyangkal bahwa ayahku masih terbilang muda jika harus meninggal di usia itu.
***

Dan ruang itu kami sebut mushala kecil di rumah masa kecilku, adalah saksi dimana ayah menjalankan ritual ibadahnya sebagai seorang Muslim dan hamba Allah yang taat, dengan khusyuk di tahun-tahun akhir hidupnya, ruang yang ketika aku menjenguk kesana setahun yang lalu meresapkan kerinduan yang mendalam pada sesosok hambaNya yang sering bersujud di atas sajadah yang terbentang itu.

Aku tau dan berharap ruang itu tidak akan pernah sepi, ada ibuku di sana, yang menyisipkan rasa rindu untuk ayahku di sholat tahajudnya dan juga setia memanjatkan do’a-do’a untuk kami tujuh anaknya dan InsyaAllah do’a ibu di ijabah oleh Allah Yang Maha Pengasih.

Dan aku merindukan ruang kecil itu juga orang-orang tercinta yang memuji kebesaran Allah di sana.
***

Hadiahkan cahaya cinta dalam ruang baru ayahku ya Allah….

Batam 11/01/2010


Friday, 1 January 2010

Penyesalan

By: Tiny

Penyesalan? Ia tak pernah datang di awal langkah perjalanan hidup dan dalam mengambil keputusan. Ia hadir saat waktu tlah berlalu…

Rasa ikhlas itu berbalut kecemburuan sudah, saat aku menyerah dan kemudian melepasnya , ada gadis yang siap memilikinya, lebih siap menjadi bagian dari hidupnya, meski ini episode dari skenario Allah yang wajib kujalani dengan ikhlas namun tetap saja, ada gumpalan sesal di sudut sana , yang tak mampu ku lukiskan dengan barisan kalimat sependek apapun.

“apa yang engkau inginkan wahai hati yang terluka, bukankah pilihanmu untuk tidak hidup bersamanya, bukankah keinginanmu untuk untuk tidak menjadi belahan jiwanya, lalu kenapa ada air mata yang berbentuk bak aliran sungai di pipimu, kenapa ada mendung yang menggayut di kelopak mata indahmu”

Ku tetap ingin tersenyum, sungguh seberapa pilunya ku rasa tak khan ku biarkan senyum untuk orang –orang terkasih ini beranjak dariku, ada sudut lain selain tempat luka , ada sudut keikhlasan yang harus di perjuangkan oleh keimanan hamba kepada takdir Tuhannya, meski rasa manusiawi itu masih saja berusaha mengoyak lembaran ketulusan dan keikhlasan itu.
***

“aku harap engkaulah mahluk Allah yang diciptakan dari tulang rusukku”

Aku memandangnya, ya…. ada getaran cinta dan harapan di ucapannya, juga ada rasa gembira yang meluap di dada ini, bukankah apa yang ia ungkapan adalah kalimat yang begitu indah? Sangat indah dan menyentuh relung-relung kalbuku. Namun kebahagiaan itu surut juga, ada banyak ketakutan tiba-tiba, tentang masa depan yang panjang dan penuh cita-cita yang tak ingin terbengkalai , juga tentang tanggung jawab baru yang harus ku emban setelah aku benar-benar memastikan diri menjadi hamba yang tercipta dari tulang rusuknya.

Aku menunduk perlahan kemudian menggeleng

“beri aku waktu”
***

Saat beranjak darinya guratan kecewa bukan hanya di rasainya, tapi terlebih aku, tak ada gunanya mengikatnya untuk menunggu kesiapanku, dia pria dewasa yang harus segera menyempurnakan setengah diennya , tak ada gunannya mempertahankan cinta untukku yang masih jauh dari mimpi menikah di usia muda. Dan aku bukanlah tulang rusuknya.
***

“Barakallahulaka wabaraka 'alayka wajamaa baina kumma fikhair (Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan) "

Ku lafalkan do’a itu berbalut senyum manis, aku benar-benar berharap mereka bertahan mengarungi biduk rumah tangga menuju keridhaan Allah, menjadi keluarga yang akan melahirkan mujahid-mujahidah , pejuang dakwah yang menciptakan dunia menjadi lebih indah.

“Jazakillah khairan katsira (Semoga Allah membalasmu dengan balasan yang baik)"

Masih sempat ku dengar mereka melafalkan do’a sebagai balasan, dan aku akhirnya menjauh dengan senyum dan mengaminkan.
***

“Assalamu’alaykum, hai mbak, khayfa khaluq?”

“bikhair, anti?”

Kami berpelukan hangat, aku tak menyangka menjumpainya di sini, setelah dua tahun lebih aku dan mereka tak pernah memberi kabar.

“subhanallah lama tidak bertemu, bagaimana kabar suami dan si kecil?”

“Alhamdulillah baik, sudah semester berapa mbak?”

“semester tujuh” jawabku dengan senyum

“owh ya , saya baru semester satu” jawabnya

“eh sudah menikah belum?” tanyanya tiba-tiba, dan aku hanya menggeleng

“hayo kapan nich?” godanya

Kami berpisah, setelah banyak hal yang di bicarakan sekadar memberi tahu akan banyak hal yang berubah dua tahun terakhir, dan kami menuju kelas yang berbeda,gadis itu adalah istri dan ibu dari anak pria dewasa yang hendak mengkhitbahku dua tahun yang lalu, aku memang menang enam semester dalam hal pendidikan formal, tapi jelas aku kalah jauh jika di sandingkan dengan kemenangannya sebagai wanita yang telah menjadi istri dan seorang ibunda yang baik.

Mereka telah berjuang mengikuti sunah Rosulullah selama dua tahun lebih, sedangkan aku, masih menunggu…
***

“We never know our life in future, but we must taking lesson from experience of life to be better”

Untuk hidupku dan saudariku, meski setiap kita memiliki alasan yang berbeda tentang ini

Batam 01/01/2010

Tini